Sabtu, 14 Januari 2017

Our Wedding and Our Future


Our Wedding and Our Future
Rated : T
Pairing : Caitlin Beadles and Justin Bieber
Genre : Romance

Caitlin Beadles,
ah, bukan. Bukan lagi ‘Beadles’. Sejak beberapa jam yang lalu ia sudah mengubah marganya menjadi ‘Bieber’. Ya, Caitlin Bieber.
Wanita cantik berambut coklat panjang bergelombang itu duduk di depan meja rias. Make-up yang cukup tebal masih menempel diwajahnya, menyembunyikan cantik alami yang dengan baikhati Tuhan berikan. Gaun pengantin putih yang terlihat mewah pun masih ia kenakan.

Caitlin masih terdiam menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan ekspresi datar. Ia sedang memikirkan hal yang sudah dari beberapa minggu yang lalu membebani pikirannya. Caitlin, gadis yang dikenal sebagai orang yang kuper di masa High School-nya, menjadi istri seorang pria dari keluarga Bieber yang sangat terkenal.
Justin Bieber.
seorang laki-laki tampan, cerdas, mapan, dan terhormat. Ia seorang pebisnis yang sangat handal. Seorang yang cerdik. Dan ia merupakan pria dambaan setiap wanita.

Lalu apa masalahnya?
masalahnya adalah suatu hal yang bernama cinta. Caitlin baru mengenal Justin itu 3 minggu yang lalu. Ia memang telah mengetahui kalau Justin dulunya adalah kakak kelas-nya di masa High School. Tetapi ia hanya sekedar ‘tahu’. Ia sekedar tahu kalau kakak kelas populer berambut coklat madu itu adalah Justin Bieber. Ia sekedar tahu kakak kelas-nya itu sangat digilai oleh banyak siswi. Hanya itu.
Selebihnya ia tidak tahu apa-apa lagi tentang laki-laki itu. Ia bahkan tidak pernah berinteraksi dengan Justin. Dan tiba-tiba 3 minggu yang lalu, ia diberitahu suatu hal penting oleh dad-nya. Suatu hal yang mampu mengubah masa depannya dan mimpi-mimpi indah yang selalu ingin ia capai.

“Caitlin, demi mempererat hubungan kekerabatan keluarga, aku akan menjodohkanmu dengan pemuda dari keluarga Bieber.”
hati Caitlin terasa ngilu bila mengingat pernyataan dad-nya. Omong kosong dengan alasan ‘mempererat hubungan kekerabatan’. Caitlin jelas tahu, kalau dibalik alasan itu ada alasan lain. Dan alasan lain itu demi melancarkan hubungan bisnis Bieber Corp dan Beadles Corp. Caitlin merasa dirinya dan calon suami-nya saat itu adalah sebuah barang yang dijaminkan oleh kedua pihak tersebut. Caitlin selalu bermimpi, ia akan menikah dengan seorang pria yang ia cintai, dan pria itu pun mencintai Caitlin. Mereka saling mengucap janji suci sehidup-semati dengan senyuman manis dan hati yang berbunga-bunga.
Setelah itu Caitlin akan menjadi ibu rumah tangga yang siap melayani keluarga-nya dengan senang hati. selalu tersenyum manis pada sang suami dan anak mereka nanti. Memasak makanan lezat dengan bumbu cinta, dan mereka hidup bahagia layaknya dunia dongeng.
Itulah mimpi dan cita-cita yang ingin ia capai. Ia juga selalu menyempatkan diri-nya untuk berdoa kepada Tuhan, agar mimpi dan cita-citanya terkabul. caitlin sangan berterima-kasih kepadaTuhan saat seorang pemuda Greyson datang kepada-nya membawa cinta. Terlebih lagi ia juga mencintai laki-laki itu. Dan Caitlin pun membalas cinta laki-laki pecinta anjing itu. Pemuda itu bernama Greyson Chance.

Cukup lama mereka menjalani hubungan percintaan mereka. Sekitar 2 tahun. Dan Caitlin sudah memantapkan hatinya, bahwa Greyson inilah yang akan mendampinginya dalam mencapai mimpi dan cita-cita-nya. Mereka bahkan sering membicarakan tentang masa depan mereka nantinya. Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Dan Tuhan telah menentukan takdir Caitlin menjadi seorang Ny. Bieber, bukan Ny. Chance.
Caitlin sempat menangis semalaman saat hubungannya dengan Greyson itu berakhir. Greyson meninggalkan Atlanta setelah hubungannya dengan Caitlin berakhir. Kakak perempuan pria itu mengatakan bahwa, pria itu telah merelakan keputusan Caitlin, dan ia akan pergi dari Atlanta untuk menyembuhkan luka hatinya.

Anak perempuan tertua keluarga Chance itupun mengatakan, mantan pacarnya itu sempat mengurung diri dikamar selama 3 hari. Perempuan bernama Emma Chance itu mengerti masalah yang sedang mendera Caitlin. Ia tidak dendam maupun marah pada mantan pacar adiknya itu. Walaupun gadis itu telah membuat adiknya menjadi kacau.
Apa mau dikata?
semuanya telah terjadi. Dan Caitlin tidak punya pilihan. Ia hanya bisa menasehati seadanya gadis yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu. Caitlin ragu, apa cita-cita dan mimpinya bisa tercapai bersama seorang Justin Bieber?
Mereka menikah tanpa cinta. Justin mengucapkan janji suci itupun dengan nada suara datar terkesan tidak peduli. Dan Caitlin mengucapkan dengan suara bergetar. Bukan karena bahagia, tapi karena khawatir. Khawatir dengan kehidupannya di masa yang akan datang. Setelah itu, apakah Caitlin akan menjadi ibu rumah tangga yang baik? Apakah ia mampu melayani Justin dan anak-anaknya dengan baik? Lupakan sejenak soal anak, Caitlin masih ragu akan hal itu. Apakah ia bisa tersenyum manis dan tulus setelah ini? Caitlin bahkan hanya dapat mengeluarkan senyum miris yang dipaksakan sejak 3 minggu yang lalu. Ia pasti akan memasakkan Justin nanti, tapi lupakan soal bumbu cinta. Pohon cinta pun belum tumbuh hingga saat ini. Caitlin sangat meragukan semuanya.

‘cklek’

Pintu coklat kamar pengantin yang ditempati Caitlin terbuka. Lamunan panjang Caitlin pun buyar. Seketika tubuh Caitlin menegang saat melihat siapa yang baru saja memasuki ruangan yang bernuansa putih dan ungu lembut tersebut.
Justin Bieber, suaminya.
Justin langsung berjalan menuju lemari besar disudut kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuka lemari, mengambil sehelai handuk dan satu pasang piyama berwarna biru tua. Caitlin merasa sangat canggung berada dalam situasi seperti ini.
“aku akan mandi duluan, setelah itu kau. Dan kita akan bicara setelahnya.” Kata Justin saat berhenti di belakang Caitlin. Ia juga menatap mata Caitlin dari pantulan cermin di hadapan mereka.
Setelah itu ia kembali berjalan menuju kamar mandi. Caitlin hanya dapat menghela napas setelah Justin menghilang di balik pintu kamar mandi. Dalam sekejab, Caitlin sudah men-cap Justin sebagai pria yang seram, dingin, dan kejam. Berlebihan memang. Tapi ini kenyataan yang ada di pikiran Caitlin. Jangan salahkan Caitlin yang memang tipe orang yang terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu.
“aku merasa ingin mati saja.” desah Caitlin.
Tanpa Caitlin ketahui, Justin juga menggumamkan sesuatu dibalik pintu yang membatasi keberadaan mereka.
“sepertinya aku harus lebih lembut padanya.”

Justin berbaring di atas tempat tidur yang berlapis sprei berwarna putih dan selimut berwarna ungu muda. Mata hazelnya menatap langit-langit kamarnya. Ah, bukan lagi kamarnya. Tapi kamar istrinya juga. Caitlin.
Sesekali ia menghembuskan napasnya. Samar-samar ia dapat mencium wangi bunga. Tapi wangi bunga tersebut belum mampu mengurangi rasa lelah dan sesak yang Justin rasakan. Ini semua terasa asing baginya.
Sekarang, Justin Bieber, telah menjadi suami dari seorang wanita bernama Caitlin Bieber. Banyak orang mengucapkan selamat saat pesta pernikahannya tadi. Justin berpikir, apa yang harus diselamatkan? Selamat atas kerjasama bisnis Bieber-Beadles? Selamat karena ia mendapat seorang Caitlin? Atau selamat karena mereka menikah tanpa cinta? Selamat melalui penderitaan baru? Penderitaan hidup berkeluarga tanpa cinta?
cih.. yang benar saja..

Justin sempat tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan pernikahan ini. Tepatnya kemarin malam. Ya, ia tidak tidur kemarin malam, padahal esok harinya adalah acara pernikahannya. Ia hanya tidur sekitar 3 jam di pagi hari, yang seharusnya ia gunakan sebagai waktu mempersiapkan acara sakral-nya yang saat itu tinggal hitungan jam.
Ia memikirkan banyak hal. Dan entah mengapa Justin berubah menjadi ‘Out of Character’. Tidak biasanya ia memikirkan suatu hal hingga berlarut-larut. Biasanya ia terkesan cuek. Tapi kali ini tidak. Ia sangat peduli dengan upacara sakral sekali seumur hidupnya.
Dan ia memutuskan beberapa hal. Meskipun ditentang oleh logikanya, tapi tidak dengan hati kecilnya. Kali ini ia membiarkan hati kecilnya yang mengambil keputusan, dan berbalik melawan logika yang selama ini ia junjung tinggi sebagai seorang Bieber.
Jujur saja, ia mengorbankan beberapa hal demi pernikahan ini. Pertama, ia mengorbankan kekasihnya demi menikahi Caitlin. Kekasih? Ya, Justin mempunyai seorang kekasih sebelum menikah dengan Caitlin. Meskipun hanya dicintainya dengan setengah hati. Namanya Arianna Grande, sepupu jauh dari sahabat kentalnya. Hubungan mereka baru berjalan 1 bulan. Arianna yang begitu agresif untuk memilikinya. Lama-kelamaan ia menjadi jengah juga melihat usaha keras Arianna, dan akhirnya ia menerima pernyataan cinta gadis berambut merah itu. Tapi akhirnya mereka putus saat Jeremy Bieber, ayahnya, menyatakan kalau ia akan dijodohkan dengan gadis dari keluarga Beadles. Dan kini Caitlin-lah yang menjadi istrinya.

Sahabatnya yang bernama Cody Simpson mengatakan, kalau Arianna frustasi sejak kandasnya hubungan mereka. Tapi Justin tidak bisa berbuat apa-apa. Memangnya Justin akan menolaj permintaan ayahnya? Jawabannya TIDAK. Se-pembangkang apapun dia, ia tetap lebih sayang ayahnya dibanding Arianna. Pengorbanan kedua, ia harus mengorbankan kebebasannya memilih pendamping hidup, dan menuruti kemauan ayahnya untuk memperistri Caitlin.
Saat Jeremy mengajukan permintaan untuk memperistri Caitlin, Jeremy tidak seperti meminta, tetapi memerintahkan. Karena ia tidak menanyakan kesediaan Justin. Ia hanya ingin melihat Justin menyanggupi perintahnya. Dan ia tidak ingin Justin menolak. Sebenarnya Justin sangat jarang memikirkan keluarga di masa depan nanti. Selama ini ia hanya berkonsentrasi pada karirnya sebagai pebisnis muda.

Sesekali sebuah keinginan terlintas dikepalanya. Keinginan itu adalah suatu saat ia akan membangun sebuah keluarga yang biasa-biasa saja. menjalani hidupnya dengan biasa-biasa saja. mendidik anaknya dengan semestinya. Dan suatu saat pula, ia akan melihat anaknya melanjutkan usahanya saat ia sudah tua. Hanya itu. Ia hanya ingin kehidupan yang simpel.
Ia tidak pernah menuntut istrinya harus cantik. Ia tidak pernah menuntut istrinya harus dari keluarga yang terpandang. Ia juga tidak menuntut anaknya harus laki-laki atau perempuan nanti. Ia hanya ingin kebahagiaan dalam keluarganya kelak.
Dan dulu Justin tidak menyadari, arti kebahagiaan dalam suatu keluarga berlandasan suatu hal. Hal itu adalah cinta.
Itu dulu, bagaimana dengan sekarang?

Caitlin kini duduk diatas kasur empuk yang akan ditempatinya malam ini. Di hadapannya ada Justin yang juga sedang duduk. Caitlin menduduk, dan Justin menatap Caitlin yang terlihat takut padanya. Ia agak risih juga melihat sikap Caitlin yang seperti sedang berhadapan dengan orang jahat.

“tidak perlu takut padaku.” Kata Justin dengan suara datar. Suara datar tersebut malah membuat Caitlin semakin takut. Takut kalau Justin marah padanya. Tapi dengan perlahan Caitlin mulai mengangkat kepalanya. Walaupun matanya menghindari mata hazel Justin yang masih menatapnya.
“Mr. Bieber –“
“sekarang kau juga seorang Bieber. Panggil aku Justin.” Kata Justin memotong ucapan Caitlin. Caitlin menelan ludahnya dengan paksa. Entah mengapa tenggorokannya menjadi kering.
“ehm.. Justin, kita akan bicara soal apa?” tanya Caitlin dengan suara kecil, tapi telinga Justin mampu menangkap suaranya. Terdengar Justin sedang menghela napas, kemudian hening sejenak. Justin sepertinya sedang menimbang-nimbang kata yang akan ia ucapkan.
“kita akan berbicara tentang aku, kau, dan kehidupan kita nanti.” Kata Justin dengan nada suara serius.

Caitlin berpikir pembicaraan ini memang perlu dan penting. Karena bagaimana pun perasaan mereka saat ini, mereka telah menjadi suami-istri. Mereka akan hidup bersama sampai.. mungkin selamanya. Dan mereka harus membicarakan matang-matang sebelum menjalaninya.
Caitlin mengangguk pelan, mengizinkan Justin memulai kembali.

“baiklah. dimulai dari aku. Aku anak pertama. Aku sangat mencintai keluargaku dan sangat mematuhi dadku. Oleh karena itu, aku menerima perjodohan ini.”
Caitlin mendengarkan dengan seksama. Sedikit sakit mendengar Justin mengatakan, kalau ia menerima perjodohan ini karena ayahnya.
“aku seorang maniak kerja. Dan aku bisa sampai lupa waktu. Aku bekerja karena aku mencintai pekerjaan itu.” Justin menghirup udara dengan pelan. Matanya menerawang mengingat kehidupannya.
“sebelum menikah denganmu, aku punya seorang kekasih. Yah, meskipun aku mencintainya setengah hati. suatu saat kau akan tahu soal itu.” Justin mengatakannya dengan nada suara yang datar. Sedangkan Caitlin, perasaan dihatinya kini bercampur aduk, sehingga membuatnya bingung sendiri. Ia sedikit kesal, tapi tidak tahu kenapa.
“kami putus, tepatnya aku yang memutuskannya. Demi pernikahan kita. Oleh karena itu, ada satu hal yang kuinginkan, aku tidak ingin pernikahan ini menjadi sia-sia.” Justin menyudahi cerita singkatnya tentang dirinya. caitlin menyimpulkan sesuatu dari kalimat terakhir yang diucapkan Justin tadi. Justin tidak menginginkan perceraian. Dan entah mengapa, ada sedikit rasa sejuk dihati Caitlin memikirkan hal itu. Setidaknya pernikahan ini tidak seburuk di sinetron-sinetron, dimana sang suami akan menggugat cerai istri hasil pilihan orangtua mereka, bahkan saat baru saja menikah. Atau sang suami yang berselingkuh dengan perempuan lain, karena tidak mencintai sang istri.
Hah, Caitlin merasa sedikit lega. Sadar atau tidak, Caitlin menatap mata Justin sedari Justin memulai ceritanya. Dan Caitlin sedikit terpesona dengan mata hazel itu.
“ceritakan tentang dirimu.”
Caitlin mengangguk pelan kemudian mulai menerawang. Ia harus menceritakan semua hal yang mengganggu pikirannya pada Justin. Setidaknya pikirannya akan terasa lebih ringan.
“hmm.. aku anak pertama dari 2 bersaudara. Momku meninggal saat aku berumur 7 tahun. Dan dadku juga maniak kerja. Mungkin seperti dirimu.” Caitlin tersenyum canggung saat mengatakannya. Mata Caitlin masih menerawang. Justin memperhatikan Caitlin dengan seksama, seolah tidak ingin terlewat satu hal pun.
“aku.. sudah berhenti bekerja di Beadles Corp, sejak aku menyetujui perjodohan ini. Adikku yang menggantikanku. Aku kurang berbakat di dunia bisnis. Jadi, aku ingin menjadi ibu rumah tangga saja. lagipula itu cita-citaku.”

Justin masih saja menyimak perkataan Caitlin. Menurut Justin, perempuan lemah lembut seperti Caitlin dan Ibunya, memang lebih cocok menjadi ibu rumah tangga. Menjadi sosok sandaran dan motivator anggotaa keluarga lain.
Justin tersenyum tipis membayangkan Caitlin yang menyemangatinya saat ia sedang lemah. Bahu Caitlin yang akan menjadi tempat Justin bersandar saat lelah. Ada sedikit perasaan aneh yang menggelitik hati Justin. Perasaan aneh, tapi menyenangkan.

“sama sepertimu. Aku dulu juga punya kekasih. Dan aku sangat mencintainya.”
Dan perasaan aneh lain muncul dihati Justin. Rasa yang muncul kini rasa yang tidak menyenangkan. Ia sedikit marah, tapi.. entahlah.
“kami juga putus. Dengan cara baik-baik. Meskipun menyakitkan, kami saling mengerti dan menerima kenyataan pahit ini. Kami memilih jalan masing-masing. Aku..aku-“ Caitlin ragu untuk melanjutkan ucapannya.
Justin menunggu ucapan Caitlin yang terlihat agak gelisah. Justin memegang dagu Caitlin dan membawa mata Caitlin bertatapan dengan matanya. Mata mereka bertemu. Mata berwarna coklat terang dan hazel itu saling bertatapan sejenak. Justin masih menunggu.

“bolehkah aku mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan ini?” tanya Caitlin dengan suara pelan.
“tentu saja.” justin sempat tersenyum dalam hitungan detik. Tangan Justin yang tadi bertengger di dagu Caitlin, jatuh dengan bebas. Mereka kembali terdiam dengan mata yang masih bertatapan.
Hening. Yang terdengar adalah helaan napas samar-samar dari pasangan pengantin baru itu dan suara detak jam yang kini menunjukan waktu tengah malam. Belum ada diantara mereka yang berani memecah keheningan hingga beberapa detik kedepan. Mereka masih sibuk mendalami pikiran masing-masing melalui tatapan mata. Caitlin memancarkan harapan dalam tatapan matanya, dan Justin memancarkan kesungguhan untuk meyakinkan Caitlin.

120 detik adalah waktu yang cukup lama untuk mereka. Hingga Caitlin merasa sudah terlalu lama mereka bertatapan. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Memilih memandang lampu tidur cantik disamping tempat tidur mereka. Dilihat sekilas pun, semua orang pasti tahu kalau Caitlin sedang merona. Merona karena melihat kesungguhan dimata Justin. Kesungguhan yang diartikannya sebagai keseriusan dalam membangun keluarga bersamanya.

“meskipun kita dijodohkan, pernikahan tetap memilki arti yang sakral. Dan Cuma sekali dalam seumur hidup.” Kata Justin memecah keheningan.
“meskipun kita tidak saling mencintai?” tanya Caitlin ragu.
“bukan tidak. Tapi belum. Kita hanya belum mencoba untuk saling mencintai.” Jawab Justin cepat. Ia meralat ucapan Caitlin.

Caitlin kembali menatap mata hazel Justin. Dan lagi-lagi kesungguhan yang ia dapat.
mencoba.. saling mencintai? Bukan sesuatu yang buruk, kan? Malah sebagai permulaan yang bagus untuk sepasang suami-istri yang dijodohkan.
“kau mau mencoba?” lagi-lagi Caitlin melontarkan pernyataan tanda ia masih ragu. Entah ragu pada apa.
“kenapa tidak?” jawab Justin dengan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban.
Caitlin terdiam sambil menunduk. Ia memilin ujung piyamanya yang serupa dengan milik Justin. Terima kasih pada ibu mertuanya yang telah mengatur semuanya.
“kita sudah cukup berkorban demi pernikahan ini. Dan mungkin kau-lah yang paling banyak berkorban. Benar?”

Caitlin mengingat kembali saat ia memutuskan hubungannya dengan Greyson Chance. Laki-laki yang dicintainya dengan sepenuh hati. ia juga merelakan hatinya terluka karena perjodohan ini. Caitlin tanpa sadar mengangguk, membenarkan perkataan Justin.
“lalu, apa kita juga akan menyia-nyiakan hasil pengorbanan kita? Kalau aku pribadi, tidak.”
“aku juga..” bisik Caitlin.
“kenapa kita tidak menikmati hasil pengorbanan kita? Kita bisa membangun keluarga harmonis.  Hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak. Melupakan kalau kita menikah karena dijodohkan.”
Lagi lagi perasaan sejuk muncul dihati Caitlin yang sempat mendung akhir-akhir ini. Perasaan menyenangkan dan menenangkan.

Bayangan keluarga bahagia yang selalu dimimpikan Caitlin kembali muncul. Dimana sosok Greyson yang dulu ia bayangkan sebagai kepala keluarga, digantikan oleh sosok Justin Bieber.
“Justin.”
Masih ada harapan mewujudkan mimpi dan cita-citanya.
“hm?”
yah, mewujudkan mimpi dan cita-citanya bersama Justin.
“bantu aku mencintaimu.” Caitlin merona setelah mengucapkan permintaannya pada Justin. Justin sempat terkejut dengan kalimat yang dilontarkan Caitlin. Tetapi kemudian Justin tersenyum tanpa sadar. Ia mengelus helaian coklat bergelombang milik Caitlin dengan lembut, membuat Caitlin mengangkat wajahnya, dan kini menatap Justin yang mengangguk dengan tulus.
“kita hanya perlu menanamkan keyakinan dan keinginan dihati kita. Kita akan saling mencintai.”
Caitlin tersenyum senang. Ingin sekali rasanya ia menangis saat ini juga. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu.
“kita sekarang satu keluarga.” Tangan yang tadinya mengelus kepala Caitlin, kini turun mengelus pipi perempuan tersebut.
“kita saling memiliki. Aku suamimu.”
“dan aku istrimu.” Kata Caitlin dengan malu-malu.

Justin membawa tubuh mungil Caitlin kedalam pelukannya. Menenggelamkan wajah Caitlin di dadanya yang bidang. Ia turut menghirup aroma bunga yang menguar dari tubuh istrinya itu. Kali ini wangi bunga yang Justin hirup mampu melegakan perasaannya, dan membuatnya tenang.
Caitlin sendiri merasa nyaman dengan perlakuan Justin. Dengan malu-malu ia membalas pelukan Justin, meski dalam posisi yang kurang nyaman.

“mulai sekarang, kalau ingin memelukku, peluk saja. kalau ingin menciumku, cium saja. kalau ingin sesuatu, minta saja. aku akan mengabulkannya.”
Caitlin merona hebat mendengar ucapan Justin yang terdengar tulus dan dengan sedikit nada godaan. Meski malu, ia tetap mengangguk.
Dengan lembut Justin melepaskan pelukannya dengan Caitlin. Justin meminggirkan poni Caitlin yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
“ini adalah pernikahan pertamaku. Dan aku harap yang terakhir. Justin, tegur aku kalau aku salah. Tapi jangan keras-keras.”
Justin terkekeh pelan mendengar ucapan polos Caitlin. Ia kemudian memasang wajah pura-pura berpikir.
“kalau kau salah, akan kucubit. Kalau kesalahanmu besar, maka akan kucium. Kalau kesalahanmu lebih besar lagi, aku akan...” Justin sengaja menggantungkan kalimatnya, membiarkan Caitlin menerka sendiri kelanjutannya.
“a-akan apa?”
“berakhir diranjang, mungkin?” Caitlin memukul Justin dengan bantal yang ada di dekatnya. Justin tertawa melihat tingkah Caitlin yang sedang malu.
Caitlin sempat terkesima melihat Justin yang tertawa. Cap seram, dingin, dan kejam pun seketika musnah dipikiran Caitlin. Ternyata Justin tidak seburuk yang ia kira.
“untuk urusan ranjang, kalau kau belum siap, tidak apa-apa. Kita bisa melakukan pendekatan terlebih dahulu.” Kata Justin merasakan suasana yang lebih nyaman usai guyonannya tadi.
Caitlin mengangguk. Bersyukur karena Justin perhatian padanya.
“aku ingin mengetahui banyak hal tentang kau, Justin.”
Justin merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Ia melirik jam dinding putih yang tergantung ditembok sebelah kanan ruangan.

2.30 am

“kurasa nanti. Sekarang kita perlu istirahat.”
Caitlin merasa sedikit kecewa, karena ingin bicara lebih banyak lagi dengan Justin, tapi, tubuh mereka juga butuh istirahat. Caitlin mulai mengatur bantal yang mereka akan gunakan. Justin mulai berbaring di sebelah kanan Caitlin. Ia menaikkan selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian ia mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap Caitlin. Begitu juga dengan Caitlin. Yah tentu saja dengan wajah merona. Ini adalah kali pertama ia tidur dengan pria yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.

“kan sudah kubilang, kalau ingin memelukku, peluk saja.” goda Justin dengan seringai.
“si-siapa yang ma-mau meluk?” ucap Caitlin menyangkal tuduhan Justin.
Justin bergerak mendekati Caitlin dan melingkarkan tangannya dipinggang Caitlin. Jantung Caitlin langsung berdetak lebih cepat. Tapi ia menyukainya. Caitlin pun meletakan tangan kirinya di dada Justin, dan tangan kanannya di bahu pria yang bersangkuta.
Justin pun mulai merasa nyaman. Rasa kantuk mulai menyerangnya.
“kehidupan kita setelah ini tidak akan mudah. Meski kita belum terlalu mengenal, kita akan menjalaninya bersama.” Ucap Justin yang mencoba tetap terjaga.
“kita berjuang bersama ya?” kata Caitlin yang mulai diserang kantuk juga.
Justin tersenyum melihat mata Caitlin yang mulai sayu.
“aku mulai menyukaimu, cait.” Ucap Justin tulus sambil menatap coklat terang dengan tatapan lembut.
Seingat Caitlin, ini adalah kali pertama Justin mengucapkan namanya tanpa gelar ‘Beadles’. Dan juga nama Caitlin terucap dengan sangat mesra oleh seorang pria yang belum lama ia kenal. Bahkan nada mesra Justin mengalahkan Greyson.
Ah, Caitlin ingin melupakan tentang perasaannya dengan Greyson. Justin-lah yang harus menempati posisi nomor satu di hatinya. Sesaat kemudia mata hazel itu mulai tertutup, dan napas Justin terdengar teratur.
“aku juga.” Kata Caitlin turut menyusul Justin ke alam mimpi. Berharap dia bisa bertemu dengan Justin.

dan mereka benar-benar memulai hidup baru dengan suka cita. Mereka terus berusaha saling mencintai. Dan untuk menumbuhkan rasa cinta itu, mereka melakukan hal-hal yang mungkin terdengar sepele.

Dipagi hari saat terbangun dari tidur, mereka berciuman. Awalnya terasa aneh, tapi lama-kelamaan menjadi menyenangkan dan menjadi suatu kegiatan wajib bagi mereka sebelum memulai hari.
Setelah itu, sebelum pergi kerja, Justin selalu menyempatkan sarapan dengan istrinya. Sepertinya coffee shop di samping kantor Justin kehilangan salh satu pelanggan tetapnya. Justin tentu lebih menyukai sarapan yang dibuat istrinya.

Setelah sarapan, caitlin akan mengantar justin keluar rumah. Justin mengecup kening caitlin sebelum berangkat. Dan hal yang sama juga dia lakukan saat pulang kerja sore harinya. Caitlin melakukan pekerjaan rumah tangga dengan senang hati. ia menyiapkan makan malam untuk justin, dan menanti justin untuk makan bersama.

Kadang mereka berselisih pendapat. Tapi pada akhirnya ada yang mengalah salah satunya. Entah itu justin ataupun caitlin. Mereka tidak ragu untuk minta maaf bila salah satu dari mereka berbuat salah.
Mereka juga saling mengingatkan saat salah, saling menguatkan saat lelah, dan berusaha selalu ada saat pasangan mereka membutuhkan. Dan seiring berjalannya waktu, mereka malah saling membutuhkan. Bukan justin,bila tanpa caitlin. Dan bukan caitlin, tanpa justin.
Mereka saling memahami, memaklumi kebiasaan buruk masing-masing, menerima apa adanya kekurangan pasangan mereka, dan menceritakan semua rahasia yang selama ini mereka simpan untuk diri mereka sendiri. Dan usaha mereka membuahkan hasil.

“aku mencintaimu, cait.”
“aku juga mencintaimu, justin.”


Akhirnya mereka mencintai satu sama lain. Perasaan cinta mereka tumbuh dengan subur. Mereka berjanji, akan selalu menjaga cinta itu. Saat caitlin sudah siap dan menyingkirkan segala kekhawatirannya, ia memenuhi jam biologis justin. Justin senang mendengar kesiapan istrinya. Akhirnya mereka menjadi suami-istri yang sesungguhnya.
Seiring berjalan waktu, rasa cinta yang selama ini mereka tanam dan rawat, menghasilkan buah cinta yang sanggup menambah kebahagiaan mereka. Bahkan keluarga besar mereka.


“mom, apa kekuatan cinta itu sangat hebat?” tanya seorang gadis kecil berambut coklat madu sebahu. Sebut saja dia Daniella Bieber.
“ya.” Jawab caitlin sambil sesekali mengelus rambut halus gadis kecil yang diperkirakan berumur 4 tahun.
“kenapa bisa begitu?” tanya Dani dengan polosnya.
Matanya masih menatap caitlin dengan lebarnya yang berwarna hazel. Dongeng snow white menjadi pengantar tidurnya kali ini.
Tapi caitlin melangkahi bagian ciuman dongeng tersebut. Ia tidak ingin pikiran Daniella terkontaminasi oleh hal-hal yang berbau dewasa. Toh, suatu saat ia akan mengetahuinya sendiri.

“Tuhan selalu mencintai kita semua. Pangeran menyelamatkan putri karena mencintainya. Daddy dan mommy bisa terus bersama karena cinta, dan Dani bisa jadi anak mommy dan daddy juga karena cinta. Jadi cinta mempunyai peran penting dalam kehidupan.”
Dani mengangguk mengerti. Ia tersenyum senang.
“mommy cinta tidak sama Dani?” tanya gadis kecil itu lagi.
“Tuhan, mommy, daddy, grandpa, grandma, semuanya cinta sama Dani. Makanya Dani juga harus mencintai kami semua. Dan jangan nakal kalau masih ingin dicintai.” Kata caitlin menyentil hidung mungil anaknya.
“Dani tidak nakal, mom.” Dani menggembungkan pipinya dengan bibir yang mengerucut.

“masa?”
Sebuah suara berat berasal dari sosok yang baru membuka pintu kamar Dani yang berwarna putih dengan stiker bunga-bunga.
“daddy!” Dani semakin merajuk mendengar suara menggoda dari daddy-nya.
Daddy-nya Dani, Justin Bieber, berjalan masuk dan iktu duduk ditempat tidur anaknya. Caitlin tersenyum melihat Justin menatap dani dengan rasa sayang berlimpah.
“dani anak baik kok. Dani selalu taat sama mom dan dad. Dani juga makan banyak sayur. Dani pintar disekolah. Pokonya dani anak baik. Benarkan mom?” dani berusaha mendapat dukungan dari sang ibu. Caitlin mengangguk sambil tersenyum.
“anak baik jam segini seharusnya sudah tidur.” Ucap justin lembut.

Jam memang telah menunjukan 9.15 pm. Dani biasanya tidur tepat jam 9pm.
“baiklah. dani juga sudah mengantuk” dani mengatupkan tangannya sambil menutup matanya untuk berdoa sejenak. Setelah itu ia mulai mebenamkan diri dalam selimut hangatnya. Tidak lupa memeluk boneka sapi berbulu putih lembut, hadiah ulang tahun dari Justin.
“selamat tidur.” Ucap caitlin membelai kepala anaknya.

Justin dan caitlin menyempatkan diri untuk mecium daniella sebelum keluar dari kamar yang bernuansa warna-warni itu. Caitlin juga menyalakan lampu tidur disamping tempat tidur Daniella, dan mematikan lampu kamar yang lain.
Mereka akhrinya meninggalkan kamar daniella dan menuju kamar mereka untuk beristirahat.

“aku jadi tidak ingin Dani cepat besar.” Ucap Caitlin yang kini sedang menggunakan pelembab muka didepan meja riasnya. Ia memasang wajah tidak rela.  Justin yang telah berbaring duluan ditempat tidur mereka, terkekeh pelan.
“tidak bisa begitu juga.”
“habisnya, dia seperti malaikat kecil yang hadir di tengah kita. Kalau ia sudah besar, aku takut ia akan melupakan aku.” Caitlin kini ikut berbaring di samping Justin. Justin sudah biasa menghadapi sikap berlebihan istrinya. Ia hanya bisa tersenyum.
“seperti biasa, kau terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan.”
“tapi –“

‘Cup’

“tidurlah. Dani tidak akan melupakanmu” Ucap justin usai mengecup singkat bibir caitlin.
“aku mencintaimu.” Kata justin sekali lagi sesaat sebelum ia menutup matanya dan berangkat ke alam mimpi. Caitlin terdiam dengan wajah merona. Tapi ia merasa tenang sekarang. Entah mengapa, kalimat penenang dari Justin selalu ampuh untuknya.

‘cup’

“aku juga mencintaimu. Selamat tidur.” Kali ini caitlin yang mengecup pipi justin. Kemudian menyusul justin ke alam mimpi.

=FIN=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar