Our Wedding and Our Future
Rated : T
Pairing : Caitlin Beadles and Justin Bieber
Genre : Romance
Pairing : Caitlin Beadles and Justin Bieber
Genre : Romance
Caitlin Beadles,
ah, bukan. Bukan lagi ‘Beadles’. Sejak beberapa jam yang lalu ia sudah mengubah marganya menjadi ‘Bieber’. Ya, Caitlin Bieber.
ah, bukan. Bukan lagi ‘Beadles’. Sejak beberapa jam yang lalu ia sudah mengubah marganya menjadi ‘Bieber’. Ya, Caitlin Bieber.
Wanita cantik berambut coklat panjang bergelombang itu
duduk di depan meja rias. Make-up yang cukup tebal masih menempel diwajahnya,
menyembunyikan cantik alami yang dengan baikhati Tuhan berikan. Gaun pengantin
putih yang terlihat mewah pun masih ia kenakan.
Caitlin masih terdiam menatap pantulan dirinya di
depan cermin dengan ekspresi datar. Ia sedang memikirkan hal yang sudah dari
beberapa minggu yang lalu membebani pikirannya. Caitlin, gadis yang dikenal
sebagai orang yang kuper di masa High School-nya, menjadi istri seorang pria
dari keluarga Bieber yang sangat terkenal.
Justin Bieber.
seorang laki-laki tampan, cerdas, mapan, dan terhormat. Ia seorang pebisnis yang sangat handal. Seorang yang cerdik. Dan ia merupakan pria dambaan setiap wanita.
seorang laki-laki tampan, cerdas, mapan, dan terhormat. Ia seorang pebisnis yang sangat handal. Seorang yang cerdik. Dan ia merupakan pria dambaan setiap wanita.
Lalu apa masalahnya?
masalahnya adalah suatu hal yang bernama cinta. Caitlin baru mengenal Justin
itu 3 minggu yang lalu. Ia memang telah mengetahui kalau Justin dulunya adalah
kakak kelas-nya di masa High School. Tetapi ia hanya sekedar ‘tahu’. Ia sekedar
tahu kalau kakak kelas populer berambut coklat madu itu adalah Justin Bieber.
Ia sekedar tahu kakak kelas-nya itu sangat digilai oleh banyak siswi. Hanya
itu.
Selebihnya ia tidak tahu apa-apa lagi tentang
laki-laki itu. Ia bahkan tidak pernah berinteraksi dengan Justin. Dan tiba-tiba
3 minggu yang lalu, ia diberitahu suatu hal penting oleh dad-nya. Suatu hal
yang mampu mengubah masa depannya dan mimpi-mimpi indah yang selalu ingin ia
capai.
“Caitlin, demi mempererat hubungan kekerabatan keluarga, aku akan menjodohkanmu dengan pemuda dari keluarga Bieber.”
hati Caitlin terasa ngilu bila mengingat pernyataan dad-nya. Omong kosong dengan alasan ‘mempererat hubungan kekerabatan’. Caitlin jelas tahu, kalau dibalik alasan itu ada alasan lain. Dan alasan lain itu demi melancarkan hubungan bisnis Bieber Corp dan Beadles Corp. Caitlin merasa dirinya dan calon suami-nya saat itu adalah sebuah barang yang dijaminkan oleh kedua pihak tersebut. Caitlin selalu bermimpi, ia akan menikah dengan seorang pria yang ia cintai, dan pria itu pun mencintai Caitlin. Mereka saling mengucap janji suci sehidup-semati dengan senyuman manis dan hati yang berbunga-bunga.
Setelah itu Caitlin akan menjadi ibu rumah tangga yang
siap melayani keluarga-nya dengan senang hati. selalu tersenyum manis pada sang
suami dan anak mereka nanti. Memasak makanan lezat dengan bumbu cinta, dan
mereka hidup bahagia layaknya dunia dongeng.
Itulah mimpi dan cita-cita yang ingin ia capai. Ia
juga selalu menyempatkan diri-nya untuk berdoa kepada Tuhan, agar mimpi dan cita-citanya
terkabul. caitlin sangan berterima-kasih kepadaTuhan saat seorang pemuda
Greyson datang kepada-nya membawa cinta. Terlebih lagi ia juga mencintai
laki-laki itu. Dan Caitlin pun membalas cinta laki-laki pecinta anjing itu.
Pemuda itu bernama Greyson Chance.
Cukup lama mereka menjalani hubungan percintaan
mereka. Sekitar 2 tahun. Dan Caitlin sudah memantapkan hatinya, bahwa Greyson
inilah yang akan mendampinginya dalam mencapai mimpi dan cita-cita-nya. Mereka
bahkan sering membicarakan tentang masa depan mereka nantinya. Manusia hanya
bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Dan Tuhan telah menentukan takdir
Caitlin menjadi seorang Ny. Bieber, bukan Ny. Chance.
Caitlin sempat menangis semalaman saat hubungannya
dengan Greyson itu berakhir. Greyson meninggalkan Atlanta setelah hubungannya
dengan Caitlin berakhir. Kakak perempuan pria itu mengatakan bahwa, pria itu
telah merelakan keputusan Caitlin, dan ia akan pergi dari Atlanta untuk
menyembuhkan luka hatinya.
Anak perempuan tertua keluarga Chance itupun
mengatakan, mantan pacarnya itu sempat mengurung diri dikamar selama 3 hari.
Perempuan bernama Emma Chance itu mengerti masalah yang sedang mendera Caitlin.
Ia tidak dendam maupun marah pada mantan pacar adiknya itu. Walaupun gadis itu
telah membuat adiknya menjadi kacau.
Apa mau dikata?
semuanya telah terjadi. Dan Caitlin tidak punya pilihan. Ia hanya bisa menasehati seadanya gadis yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu. Caitlin ragu, apa cita-cita dan mimpinya bisa tercapai bersama seorang Justin Bieber?
semuanya telah terjadi. Dan Caitlin tidak punya pilihan. Ia hanya bisa menasehati seadanya gadis yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu. Caitlin ragu, apa cita-cita dan mimpinya bisa tercapai bersama seorang Justin Bieber?
Mereka menikah tanpa cinta. Justin mengucapkan janji
suci itupun dengan nada suara datar terkesan tidak peduli. Dan Caitlin
mengucapkan dengan suara bergetar. Bukan karena bahagia, tapi karena khawatir.
Khawatir dengan kehidupannya di masa yang akan datang. Setelah itu, apakah
Caitlin akan menjadi ibu rumah tangga yang baik? Apakah ia mampu melayani
Justin dan anak-anaknya dengan baik? Lupakan sejenak soal anak, Caitlin masih
ragu akan hal itu. Apakah ia bisa tersenyum manis dan tulus setelah ini?
Caitlin bahkan hanya dapat mengeluarkan senyum miris yang dipaksakan sejak 3
minggu yang lalu. Ia pasti akan memasakkan Justin nanti, tapi lupakan soal
bumbu cinta. Pohon cinta pun belum tumbuh hingga saat ini. Caitlin sangat
meragukan semuanya.
‘cklek’
Pintu coklat kamar pengantin yang ditempati Caitlin
terbuka. Lamunan panjang Caitlin pun buyar. Seketika tubuh Caitlin menegang
saat melihat siapa yang baru saja memasuki ruangan yang bernuansa putih dan
ungu lembut tersebut.
Justin Bieber, suaminya.
Justin langsung berjalan menuju lemari besar disudut kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuka lemari, mengambil sehelai handuk dan satu pasang piyama berwarna biru tua. Caitlin merasa sangat canggung berada dalam situasi seperti ini.
Justin langsung berjalan menuju lemari besar disudut kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuka lemari, mengambil sehelai handuk dan satu pasang piyama berwarna biru tua. Caitlin merasa sangat canggung berada dalam situasi seperti ini.
“aku akan mandi duluan, setelah itu kau. Dan kita akan
bicara setelahnya.” Kata Justin saat berhenti di belakang Caitlin. Ia juga
menatap mata Caitlin dari pantulan cermin di hadapan mereka.
Setelah itu ia kembali berjalan menuju kamar mandi.
Caitlin hanya dapat menghela napas setelah Justin menghilang di balik pintu
kamar mandi. Dalam sekejab, Caitlin sudah men-cap Justin sebagai pria yang
seram, dingin, dan kejam. Berlebihan memang. Tapi ini kenyataan yang ada di
pikiran Caitlin. Jangan salahkan Caitlin yang memang tipe orang yang terlalu
mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu.
“aku merasa ingin mati saja.” desah Caitlin.
Tanpa Caitlin ketahui,
Justin juga menggumamkan sesuatu dibalik pintu yang membatasi keberadaan
mereka.
“sepertinya aku harus lebih lembut padanya.”
“sepertinya aku harus lebih lembut padanya.”
Justin berbaring di atas tempat tidur yang berlapis sprei berwarna putih dan selimut berwarna ungu muda. Mata hazelnya menatap langit-langit kamarnya. Ah, bukan lagi kamarnya. Tapi kamar istrinya juga. Caitlin.
Sesekali ia menghembuskan napasnya. Samar-samar ia
dapat mencium wangi bunga. Tapi wangi bunga tersebut belum mampu mengurangi
rasa lelah dan sesak yang Justin rasakan. Ini semua terasa asing baginya.
Sekarang, Justin Bieber, telah menjadi suami dari
seorang wanita bernama Caitlin Bieber. Banyak orang mengucapkan selamat saat
pesta pernikahannya tadi. Justin berpikir, apa yang harus diselamatkan? Selamat
atas kerjasama bisnis Bieber-Beadles? Selamat karena ia mendapat seorang
Caitlin? Atau selamat karena mereka menikah tanpa cinta? Selamat melalui
penderitaan baru? Penderitaan hidup berkeluarga tanpa cinta?
cih.. yang benar saja..
cih.. yang benar saja..
Justin sempat tidak bisa tidur semalaman karena
memikirkan pernikahan ini. Tepatnya kemarin malam. Ya, ia tidak tidur kemarin
malam, padahal esok harinya adalah acara pernikahannya. Ia hanya tidur sekitar
3 jam di pagi hari, yang seharusnya ia gunakan sebagai waktu mempersiapkan
acara sakral-nya yang saat itu tinggal hitungan jam.
Ia memikirkan banyak hal. Dan entah mengapa Justin
berubah menjadi ‘Out of Character’.
Tidak biasanya ia memikirkan suatu hal hingga berlarut-larut. Biasanya ia
terkesan cuek. Tapi kali ini tidak. Ia sangat peduli dengan upacara sakral
sekali seumur hidupnya.
Dan ia memutuskan beberapa hal. Meskipun ditentang
oleh logikanya, tapi tidak dengan hati kecilnya. Kali ini ia membiarkan hati
kecilnya yang mengambil keputusan, dan berbalik melawan logika yang selama ini
ia junjung tinggi sebagai seorang Bieber.
Jujur saja, ia mengorbankan beberapa hal demi
pernikahan ini. Pertama, ia mengorbankan kekasihnya demi menikahi Caitlin.
Kekasih? Ya, Justin mempunyai seorang kekasih sebelum menikah dengan Caitlin.
Meskipun hanya dicintainya dengan setengah hati. Namanya Arianna Grande, sepupu
jauh dari sahabat kentalnya. Hubungan mereka baru berjalan 1 bulan. Arianna
yang begitu agresif untuk memilikinya. Lama-kelamaan ia menjadi jengah juga
melihat usaha keras Arianna, dan akhirnya ia menerima pernyataan cinta gadis
berambut merah itu. Tapi akhirnya mereka putus saat Jeremy Bieber, ayahnya,
menyatakan kalau ia akan dijodohkan dengan gadis dari keluarga Beadles. Dan
kini Caitlin-lah yang menjadi istrinya.
Sahabatnya yang bernama Cody Simpson mengatakan, kalau
Arianna frustasi sejak kandasnya hubungan mereka. Tapi Justin tidak bisa
berbuat apa-apa. Memangnya Justin akan menolaj permintaan ayahnya? Jawabannya
TIDAK. Se-pembangkang apapun dia, ia tetap lebih sayang ayahnya dibanding
Arianna. Pengorbanan kedua, ia harus mengorbankan kebebasannya memilih
pendamping hidup, dan menuruti kemauan ayahnya untuk memperistri Caitlin.
Saat Jeremy mengajukan permintaan untuk memperistri
Caitlin, Jeremy tidak seperti meminta, tetapi memerintahkan. Karena ia tidak
menanyakan kesediaan Justin. Ia hanya ingin melihat Justin menyanggupi
perintahnya. Dan ia tidak ingin Justin menolak. Sebenarnya Justin sangat jarang
memikirkan keluarga di masa depan nanti. Selama ini ia hanya berkonsentrasi
pada karirnya sebagai pebisnis muda.
Sesekali sebuah keinginan terlintas dikepalanya.
Keinginan itu adalah suatu saat ia akan membangun sebuah keluarga yang
biasa-biasa saja. menjalani hidupnya dengan biasa-biasa saja. mendidik anaknya
dengan semestinya. Dan suatu saat pula, ia akan melihat anaknya melanjutkan
usahanya saat ia sudah tua. Hanya itu. Ia hanya ingin kehidupan yang simpel.
Ia tidak pernah menuntut istrinya harus cantik. Ia
tidak pernah menuntut istrinya harus dari keluarga yang terpandang. Ia juga
tidak menuntut anaknya harus laki-laki atau perempuan nanti. Ia hanya ingin
kebahagiaan dalam keluarganya kelak.
Dan dulu Justin tidak menyadari, arti kebahagiaan
dalam suatu keluarga berlandasan suatu hal. Hal itu adalah cinta.
Itu dulu, bagaimana dengan
sekarang?
Caitlin kini duduk diatas kasur empuk yang akan ditempatinya malam ini. Di hadapannya ada Justin yang juga sedang duduk. Caitlin menduduk, dan Justin menatap Caitlin yang terlihat takut padanya. Ia agak risih juga melihat sikap Caitlin yang seperti sedang berhadapan dengan orang jahat.
“tidak perlu takut padaku.” Kata Justin dengan suara
datar. Suara datar tersebut malah membuat Caitlin semakin takut. Takut kalau
Justin marah padanya. Tapi dengan perlahan Caitlin mulai mengangkat kepalanya.
Walaupun matanya menghindari mata hazel Justin yang masih menatapnya.
“Mr. Bieber –“
“sekarang kau juga seorang Bieber. Panggil aku Justin.” Kata Justin memotong ucapan Caitlin. Caitlin menelan ludahnya dengan paksa. Entah mengapa tenggorokannya menjadi kering.
“ehm.. Justin, kita akan bicara soal apa?” tanya Caitlin dengan suara kecil, tapi telinga Justin mampu menangkap suaranya. Terdengar Justin sedang menghela napas, kemudian hening sejenak. Justin sepertinya sedang menimbang-nimbang kata yang akan ia ucapkan.
“Mr. Bieber –“
“sekarang kau juga seorang Bieber. Panggil aku Justin.” Kata Justin memotong ucapan Caitlin. Caitlin menelan ludahnya dengan paksa. Entah mengapa tenggorokannya menjadi kering.
“ehm.. Justin, kita akan bicara soal apa?” tanya Caitlin dengan suara kecil, tapi telinga Justin mampu menangkap suaranya. Terdengar Justin sedang menghela napas, kemudian hening sejenak. Justin sepertinya sedang menimbang-nimbang kata yang akan ia ucapkan.
“kita akan berbicara tentang aku, kau, dan kehidupan
kita nanti.” Kata Justin dengan nada suara serius.
Caitlin berpikir pembicaraan ini memang perlu dan
penting. Karena bagaimana pun perasaan mereka saat ini, mereka telah menjadi
suami-istri. Mereka akan hidup bersama sampai.. mungkin selamanya. Dan mereka
harus membicarakan matang-matang sebelum menjalaninya.
Caitlin mengangguk pelan, mengizinkan Justin memulai
kembali.
“baiklah. dimulai dari aku. Aku anak pertama. Aku
sangat mencintai keluargaku dan sangat mematuhi dadku. Oleh karena itu, aku
menerima perjodohan ini.”
Caitlin mendengarkan dengan seksama. Sedikit sakit mendengar
Justin mengatakan, kalau ia menerima perjodohan ini karena ayahnya.
“aku seorang maniak kerja. Dan aku bisa sampai lupa
waktu. Aku bekerja karena aku mencintai pekerjaan itu.” Justin menghirup udara
dengan pelan. Matanya menerawang mengingat kehidupannya.
“sebelum menikah denganmu, aku punya seorang kekasih.
Yah, meskipun aku mencintainya setengah hati. suatu saat kau akan tahu soal
itu.” Justin mengatakannya dengan nada suara yang datar. Sedangkan Caitlin,
perasaan dihatinya kini bercampur aduk, sehingga membuatnya bingung sendiri. Ia
sedikit kesal, tapi tidak tahu kenapa.
“kami putus, tepatnya aku yang memutuskannya. Demi
pernikahan kita. Oleh karena itu, ada satu hal yang kuinginkan, aku tidak ingin
pernikahan ini menjadi sia-sia.” Justin menyudahi cerita singkatnya tentang
dirinya. caitlin menyimpulkan sesuatu dari kalimat terakhir yang diucapkan
Justin tadi. Justin tidak menginginkan perceraian. Dan entah mengapa, ada
sedikit rasa sejuk dihati Caitlin memikirkan hal itu. Setidaknya pernikahan ini
tidak seburuk di sinetron-sinetron, dimana sang suami akan menggugat cerai
istri hasil pilihan orangtua mereka, bahkan saat baru saja menikah. Atau sang
suami yang berselingkuh dengan perempuan lain, karena tidak mencintai sang
istri.
Hah, Caitlin merasa sedikit lega. Sadar atau tidak,
Caitlin menatap mata Justin sedari Justin memulai ceritanya. Dan Caitlin
sedikit terpesona dengan mata hazel itu.
“ceritakan tentang dirimu.”
Caitlin mengangguk pelan kemudian mulai menerawang. Ia
harus menceritakan semua hal yang mengganggu pikirannya pada Justin. Setidaknya
pikirannya akan terasa lebih ringan.
“hmm.. aku anak pertama dari 2 bersaudara. Momku
meninggal saat aku berumur 7 tahun. Dan dadku juga maniak kerja. Mungkin
seperti dirimu.” Caitlin tersenyum canggung saat mengatakannya. Mata Caitlin
masih menerawang. Justin memperhatikan Caitlin dengan seksama, seolah tidak
ingin terlewat satu hal pun.
“aku.. sudah berhenti bekerja di Beadles Corp, sejak
aku menyetujui perjodohan ini. Adikku yang menggantikanku. Aku kurang berbakat
di dunia bisnis. Jadi, aku ingin menjadi ibu rumah tangga saja. lagipula itu
cita-citaku.”
Justin masih saja menyimak perkataan Caitlin. Menurut
Justin, perempuan lemah lembut seperti Caitlin dan Ibunya, memang lebih cocok
menjadi ibu rumah tangga. Menjadi sosok sandaran dan motivator anggotaa
keluarga lain.
Justin tersenyum tipis membayangkan Caitlin yang
menyemangatinya saat ia sedang lemah. Bahu Caitlin yang akan menjadi tempat
Justin bersandar saat lelah. Ada sedikit perasaan aneh yang menggelitik hati
Justin. Perasaan aneh, tapi menyenangkan.
“sama sepertimu. Aku dulu juga punya kekasih. Dan aku
sangat mencintainya.”
Dan perasaan aneh lain muncul dihati Justin. Rasa yang
muncul kini rasa yang tidak menyenangkan. Ia sedikit marah, tapi.. entahlah.
“kami juga putus. Dengan cara baik-baik. Meskipun
menyakitkan, kami saling mengerti dan menerima kenyataan pahit ini. Kami
memilih jalan masing-masing. Aku..aku-“ Caitlin ragu untuk melanjutkan
ucapannya.
Justin menunggu ucapan Caitlin yang terlihat agak
gelisah. Justin memegang dagu Caitlin dan membawa mata Caitlin bertatapan
dengan matanya. Mata mereka bertemu. Mata berwarna coklat terang dan hazel itu
saling bertatapan sejenak. Justin masih menunggu.
“bolehkah aku mengharapkan kebahagiaan dalam
pernikahan ini?” tanya Caitlin dengan suara pelan.
“tentu saja.” justin sempat tersenyum dalam hitungan
detik. Tangan Justin yang tadi bertengger di dagu Caitlin, jatuh dengan bebas.
Mereka kembali terdiam dengan mata yang masih bertatapan.
Hening. Yang terdengar adalah helaan napas samar-samar
dari pasangan pengantin baru itu dan suara detak jam yang kini menunjukan waktu
tengah malam. Belum ada diantara mereka yang berani memecah keheningan hingga
beberapa detik kedepan. Mereka masih sibuk mendalami pikiran masing-masing
melalui tatapan mata. Caitlin memancarkan harapan dalam tatapan matanya, dan
Justin memancarkan kesungguhan untuk meyakinkan Caitlin.
120 detik adalah waktu yang cukup lama untuk mereka.
Hingga Caitlin merasa sudah terlalu lama mereka bertatapan. Ia pun mengalihkan
pandangannya ke arah lain. Memilih memandang lampu tidur cantik disamping
tempat tidur mereka. Dilihat sekilas pun, semua orang pasti tahu kalau Caitlin
sedang merona. Merona karena melihat kesungguhan dimata Justin. Kesungguhan
yang diartikannya sebagai keseriusan dalam membangun keluarga bersamanya.
“meskipun kita dijodohkan, pernikahan tetap memilki
arti yang sakral. Dan Cuma sekali dalam seumur hidup.” Kata Justin memecah
keheningan.
“meskipun kita tidak saling mencintai?” tanya Caitlin
ragu.
“bukan tidak. Tapi belum. Kita hanya belum mencoba
untuk saling mencintai.” Jawab Justin cepat. Ia meralat ucapan Caitlin.
Caitlin kembali menatap mata hazel Justin. Dan
lagi-lagi kesungguhan yang ia dapat.
mencoba.. saling mencintai? Bukan sesuatu yang buruk, kan? Malah sebagai permulaan yang bagus untuk sepasang suami-istri yang dijodohkan.
mencoba.. saling mencintai? Bukan sesuatu yang buruk, kan? Malah sebagai permulaan yang bagus untuk sepasang suami-istri yang dijodohkan.
“kau mau mencoba?” lagi-lagi Caitlin melontarkan
pernyataan tanda ia masih ragu. Entah ragu pada apa.
“kenapa tidak?” jawab Justin dengan pertanyaan yang
tidak memerlukan jawaban.
Caitlin terdiam sambil menunduk. Ia memilin ujung
piyamanya yang serupa dengan milik Justin. Terima kasih pada ibu mertuanya yang
telah mengatur semuanya.
“kita sudah cukup berkorban demi pernikahan ini. Dan
mungkin kau-lah yang paling banyak berkorban. Benar?”
Caitlin mengingat kembali saat ia memutuskan
hubungannya dengan Greyson Chance. Laki-laki yang dicintainya dengan sepenuh
hati. ia juga merelakan hatinya terluka karena perjodohan ini. Caitlin tanpa
sadar mengangguk, membenarkan perkataan Justin.
“lalu, apa kita juga akan menyia-nyiakan hasil
pengorbanan kita? Kalau aku pribadi, tidak.”
“aku juga..” bisik Caitlin.
“aku juga..” bisik Caitlin.
“kenapa kita tidak menikmati hasil pengorbanan kita?
Kita bisa membangun keluarga harmonis. Hidup bahagia bersama anak-anak kita
kelak. Melupakan kalau kita menikah karena dijodohkan.”
Lagi lagi perasaan sejuk muncul dihati Caitlin yang
sempat mendung akhir-akhir ini. Perasaan menyenangkan dan menenangkan.
Bayangan keluarga bahagia yang selalu dimimpikan
Caitlin kembali muncul. Dimana sosok Greyson yang dulu ia bayangkan sebagai
kepala keluarga, digantikan oleh sosok Justin Bieber.
“Justin.”
Masih ada harapan mewujudkan mimpi dan cita-citanya.
“hm?”
yah, mewujudkan mimpi dan cita-citanya bersama Justin.
Masih ada harapan mewujudkan mimpi dan cita-citanya.
“hm?”
yah, mewujudkan mimpi dan cita-citanya bersama Justin.
“bantu aku mencintaimu.” Caitlin merona setelah
mengucapkan permintaannya pada Justin. Justin sempat terkejut dengan kalimat
yang dilontarkan Caitlin. Tetapi kemudian Justin tersenyum tanpa sadar. Ia
mengelus helaian coklat bergelombang milik Caitlin dengan lembut, membuat
Caitlin mengangkat wajahnya, dan kini menatap Justin yang mengangguk dengan
tulus.
“kita hanya perlu menanamkan keyakinan dan keinginan
dihati kita. Kita akan saling mencintai.”
Caitlin tersenyum senang. Ingin sekali rasanya ia
menangis saat ini juga. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu.
“kita sekarang satu keluarga.” Tangan yang tadinya
mengelus kepala Caitlin, kini turun mengelus pipi perempuan tersebut.
“kita saling memiliki. Aku suamimu.”
“kita saling memiliki. Aku suamimu.”
“dan aku istrimu.” Kata Caitlin dengan malu-malu.
Justin membawa tubuh mungil Caitlin kedalam
pelukannya. Menenggelamkan wajah Caitlin di dadanya yang bidang. Ia turut
menghirup aroma bunga yang menguar dari tubuh istrinya itu. Kali ini wangi
bunga yang Justin hirup mampu melegakan perasaannya, dan membuatnya tenang.
Caitlin sendiri merasa nyaman dengan perlakuan Justin.
Dengan malu-malu ia membalas pelukan Justin, meski dalam posisi yang kurang
nyaman.
“mulai sekarang, kalau ingin memelukku, peluk saja.
kalau ingin menciumku, cium saja. kalau ingin sesuatu, minta saja. aku akan
mengabulkannya.”
Caitlin merona hebat mendengar ucapan Justin yang
terdengar tulus dan dengan sedikit nada godaan. Meski malu, ia tetap
mengangguk.
Dengan lembut Justin melepaskan pelukannya dengan
Caitlin. Justin meminggirkan poni Caitlin yang sedikit menutupi wajah
cantiknya.
“ini adalah pernikahan pertamaku. Dan aku harap yang
terakhir. Justin, tegur aku kalau aku salah. Tapi jangan keras-keras.”
Justin terkekeh pelan mendengar ucapan polos Caitlin.
Ia kemudian memasang wajah pura-pura berpikir.
“kalau kau salah, akan kucubit. Kalau kesalahanmu
besar, maka akan kucium. Kalau kesalahanmu lebih besar lagi, aku akan...”
Justin sengaja menggantungkan kalimatnya, membiarkan Caitlin menerka sendiri
kelanjutannya.
“a-akan apa?”
“a-akan apa?”
“berakhir diranjang, mungkin?” Caitlin memukul Justin
dengan bantal yang ada di dekatnya. Justin tertawa melihat tingkah Caitlin yang
sedang malu.
Caitlin sempat terkesima melihat Justin yang tertawa.
Cap seram, dingin, dan kejam pun seketika musnah dipikiran Caitlin. Ternyata
Justin tidak seburuk yang ia kira.
“untuk urusan ranjang, kalau kau belum siap, tidak
apa-apa. Kita bisa melakukan pendekatan terlebih dahulu.” Kata Justin merasakan
suasana yang lebih nyaman usai guyonannya tadi.
Caitlin mengangguk. Bersyukur karena Justin perhatian
padanya.
“aku ingin mengetahui banyak hal tentang kau, Justin.”
Justin merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Ia
melirik jam dinding putih yang tergantung ditembok sebelah kanan ruangan.
2.30 am
“kurasa nanti. Sekarang kita perlu istirahat.”
Caitlin merasa sedikit kecewa, karena ingin bicara
lebih banyak lagi dengan Justin, tapi, tubuh mereka juga butuh istirahat.
Caitlin mulai mengatur bantal yang mereka akan gunakan. Justin mulai berbaring
di sebelah kanan Caitlin. Ia menaikkan selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian
ia mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap Caitlin. Begitu juga dengan
Caitlin. Yah tentu saja dengan wajah merona. Ini adalah kali pertama ia tidur
dengan pria yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.
“kan sudah kubilang, kalau ingin memelukku, peluk
saja.” goda Justin dengan seringai.
“si-siapa yang ma-mau meluk?” ucap Caitlin menyangkal tuduhan Justin.
“si-siapa yang ma-mau meluk?” ucap Caitlin menyangkal tuduhan Justin.
Justin bergerak mendekati Caitlin dan melingkarkan
tangannya dipinggang Caitlin. Jantung Caitlin langsung berdetak lebih cepat.
Tapi ia menyukainya. Caitlin pun meletakan tangan kirinya di dada Justin, dan
tangan kanannya di bahu pria yang bersangkuta.
Justin pun mulai merasa nyaman. Rasa kantuk mulai
menyerangnya.
“kehidupan kita setelah ini tidak akan mudah. Meski
kita belum terlalu mengenal, kita akan menjalaninya bersama.” Ucap Justin yang
mencoba tetap terjaga.
“kita berjuang bersama ya?” kata Caitlin yang mulai
diserang kantuk juga.
Justin tersenyum melihat mata Caitlin yang mulai sayu.
“aku mulai menyukaimu, cait.” Ucap Justin tulus sambil
menatap coklat terang dengan tatapan lembut.
Seingat Caitlin, ini adalah kali pertama Justin
mengucapkan namanya tanpa gelar ‘Beadles’. Dan juga nama Caitlin terucap dengan
sangat mesra oleh seorang pria yang belum lama ia kenal. Bahkan nada mesra
Justin mengalahkan Greyson.
Ah, Caitlin ingin melupakan tentang perasaannya dengan
Greyson. Justin-lah yang harus menempati posisi nomor satu di hatinya. Sesaat
kemudia mata hazel itu mulai tertutup, dan napas Justin terdengar teratur.
“aku juga.” Kata Caitlin
turut menyusul Justin ke alam mimpi. Berharap dia bisa bertemu dengan Justin.
dan mereka benar-benar memulai hidup baru dengan suka cita. Mereka terus berusaha saling mencintai. Dan untuk menumbuhkan rasa cinta itu, mereka melakukan hal-hal yang mungkin terdengar sepele.
Dipagi hari saat terbangun dari tidur, mereka
berciuman. Awalnya terasa aneh, tapi lama-kelamaan menjadi menyenangkan dan
menjadi suatu kegiatan wajib bagi mereka sebelum memulai hari.
Setelah itu, sebelum pergi kerja, Justin selalu
menyempatkan sarapan dengan istrinya. Sepertinya coffee shop di samping kantor
Justin kehilangan salh satu pelanggan tetapnya. Justin tentu lebih menyukai
sarapan yang dibuat istrinya.
Setelah sarapan, caitlin akan mengantar justin keluar
rumah. Justin mengecup kening caitlin sebelum berangkat. Dan hal yang sama juga
dia lakukan saat pulang kerja sore harinya. Caitlin melakukan pekerjaan rumah
tangga dengan senang hati. ia menyiapkan makan malam untuk justin, dan menanti
justin untuk makan bersama.
Kadang mereka berselisih pendapat. Tapi pada akhirnya
ada yang mengalah salah satunya. Entah itu justin ataupun caitlin. Mereka tidak
ragu untuk minta maaf bila salah satu dari mereka berbuat salah.
Mereka juga saling mengingatkan saat salah, saling
menguatkan saat lelah, dan berusaha selalu ada saat pasangan mereka
membutuhkan. Dan seiring berjalannya waktu, mereka malah saling membutuhkan.
Bukan justin,bila tanpa caitlin. Dan bukan caitlin, tanpa justin.
Mereka saling memahami, memaklumi kebiasaan buruk
masing-masing, menerima apa adanya kekurangan pasangan mereka, dan menceritakan
semua rahasia yang selama ini mereka simpan untuk diri mereka sendiri. Dan
usaha mereka membuahkan hasil.
“aku mencintaimu, cait.”
“aku juga mencintaimu, justin.”
“aku juga mencintaimu, justin.”
Akhirnya mereka mencintai satu sama lain. Perasaan
cinta mereka tumbuh dengan subur. Mereka berjanji, akan selalu menjaga cinta
itu. Saat caitlin sudah siap dan menyingkirkan segala kekhawatirannya, ia
memenuhi jam biologis justin. Justin senang mendengar kesiapan istrinya.
Akhirnya mereka menjadi suami-istri yang sesungguhnya.
Seiring berjalan waktu, rasa
cinta yang selama ini mereka tanam dan rawat, menghasilkan buah cinta yang
sanggup menambah kebahagiaan mereka. Bahkan keluarga besar mereka.
“mom, apa kekuatan cinta itu sangat hebat?” tanya seorang gadis kecil berambut coklat madu sebahu. Sebut saja dia Daniella Bieber.
“ya.” Jawab caitlin sambil sesekali mengelus rambut
halus gadis kecil yang diperkirakan berumur 4 tahun.
“kenapa bisa begitu?” tanya Dani dengan polosnya.
Matanya masih menatap caitlin dengan lebarnya yang
berwarna hazel. Dongeng snow white menjadi pengantar tidurnya kali ini.
Tapi caitlin melangkahi bagian ciuman dongeng
tersebut. Ia tidak ingin pikiran Daniella terkontaminasi oleh hal-hal yang
berbau dewasa. Toh, suatu saat ia akan mengetahuinya sendiri.
“Tuhan selalu mencintai kita semua. Pangeran
menyelamatkan putri karena mencintainya. Daddy dan mommy bisa terus bersama
karena cinta, dan Dani bisa jadi anak mommy dan daddy juga karena cinta. Jadi
cinta mempunyai peran penting dalam kehidupan.”
Dani mengangguk mengerti. Ia tersenyum senang.
“mommy cinta tidak sama Dani?” tanya gadis kecil itu
lagi.
“Tuhan, mommy, daddy, grandpa, grandma, semuanya cinta
sama Dani. Makanya Dani juga harus mencintai kami semua. Dan jangan nakal kalau
masih ingin dicintai.” Kata caitlin menyentil hidung mungil anaknya.
“Dani tidak nakal, mom.” Dani menggembungkan pipinya
dengan bibir yang mengerucut.
“masa?”
Sebuah suara berat berasal dari sosok yang baru
membuka pintu kamar Dani yang berwarna putih dengan stiker bunga-bunga.
“daddy!” Dani semakin merajuk mendengar suara menggoda
dari daddy-nya.
Daddy-nya Dani, Justin Bieber, berjalan masuk dan iktu
duduk ditempat tidur anaknya. Caitlin tersenyum melihat Justin menatap dani
dengan rasa sayang berlimpah.
“dani anak baik kok. Dani selalu taat sama mom dan
dad. Dani juga makan banyak sayur. Dani pintar disekolah. Pokonya dani anak
baik. Benarkan mom?” dani berusaha mendapat dukungan dari sang ibu. Caitlin
mengangguk sambil tersenyum.
“anak baik jam segini seharusnya sudah tidur.” Ucap
justin lembut.
Jam memang telah menunjukan 9.15 pm. Dani biasanya
tidur tepat jam 9pm.
“baiklah. dani juga sudah mengantuk” dani mengatupkan
tangannya sambil menutup matanya untuk berdoa sejenak. Setelah itu ia mulai
mebenamkan diri dalam selimut hangatnya. Tidak lupa memeluk boneka sapi berbulu
putih lembut, hadiah ulang tahun dari Justin.
“selamat tidur.” Ucap caitlin membelai kepala anaknya.
Justin dan caitlin menyempatkan diri untuk mecium
daniella sebelum keluar dari kamar yang bernuansa warna-warni itu. Caitlin juga
menyalakan lampu tidur disamping tempat tidur Daniella, dan mematikan lampu
kamar yang lain.
Mereka akhrinya meninggalkan kamar daniella dan menuju
kamar mereka untuk beristirahat.
“aku jadi tidak ingin Dani cepat besar.” Ucap Caitlin
yang kini sedang menggunakan pelembab muka didepan meja riasnya. Ia memasang
wajah tidak rela. Justin yang telah
berbaring duluan ditempat tidur mereka, terkekeh pelan.
“tidak bisa begitu juga.”
“habisnya, dia seperti malaikat kecil yang hadir di
tengah kita. Kalau ia sudah besar, aku takut ia akan melupakan aku.” Caitlin
kini ikut berbaring di samping Justin. Justin sudah biasa menghadapi sikap
berlebihan istrinya. Ia hanya bisa tersenyum.
“seperti biasa, kau terlalu mengkhawatirkan sesuatu
yang tidak perlu dikhawatirkan.”
“tapi –“
“tapi –“
‘Cup’
“tidurlah. Dani tidak akan melupakanmu” Ucap justin
usai mengecup singkat bibir caitlin.
“aku mencintaimu.” Kata justin sekali lagi sesaat sebelum ia menutup matanya dan berangkat ke alam mimpi. Caitlin terdiam dengan wajah merona. Tapi ia merasa tenang sekarang. Entah mengapa, kalimat penenang dari Justin selalu ampuh untuknya.
“aku mencintaimu.” Kata justin sekali lagi sesaat sebelum ia menutup matanya dan berangkat ke alam mimpi. Caitlin terdiam dengan wajah merona. Tapi ia merasa tenang sekarang. Entah mengapa, kalimat penenang dari Justin selalu ampuh untuknya.
‘cup’
“aku juga mencintaimu. Selamat tidur.” Kali ini
caitlin yang mengecup pipi justin. Kemudian menyusul justin ke alam mimpi.
=FIN=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar