Sabtu, 14 Januari 2017

Kenangan Yang Tak Dikenal

Nameless Memory
Rated : T – Family
Pairing : Justin Bieber, Caitlin Beadles, Jaxon Bieber.

Caitlin Beadles, itulah namaku. Perempuan bersahaja, berambut panjang berwarna coklat terang bergelombang. Aku adalah seseorang mahasiswi jurusan sastra Perancis di universitas atlanta. Aku hanyalah perempuan biasa, tidak cantik juga tidak pintar.

disaat teman-teman kuliahku memiliki tubuh tinggi langsing dan berbody menarik, aku masih bertahan dengan postur tubuhku yang biasa saja.
tak ada yang istimewa bagiku. Mungkin yang istimewa hanya rambut panjang berwarna coklat terang ini. Usiaku 21 tahun. Diusiaku ini sedikitpun aku tak pernah menikmati apa itu pacaran. Aku tak pernah menginginkan itu. Karena akupun tak ingin menikah.
Aku takut. Ya..aku takut. Aku takut seperti momku. Mati ditangan orang yang dicintainya. Ibuku meninggal akibat sering dianiaya dad. Kepala mom dibenturkan ketembok hingga pecah dan akhirnya meninggal dunia. Dadku melakukan itu saat ia dibawah pengaruh setan yang bernama ‘alkohol’

Momku meninggal saat aku berusia 6 tahun. Diusia yang begitu dini, aku dipaksa untuk melihat dengan mataku sendiri aksi brutal dad hingga mom meninggal. Diusia yang begitu dini pula aku harus menerima kenyataan hidup sebatang kara tanpa ada keluarga yang menampung. Akhirnya, aku dipungut oleh tetanggaku. Seseorang nenek baik yang memiliki seorang cucu yang usianya 3 tahun lebih tua dariku. Nenek Dianne dan Kak David.

Kujalani hidup ini ddengan tegar dan gagah. Aku tak pernah mengetahui dimana dad sekarang berada. Apakah ia masih hidup sampai sekarang pun, aku tak tahu. Kalian percaya karma? Aku percaya. Dan itulah yang menyebabkan aku takut. Aku takut karma itu terjadi dan pada akhirnya hidupku akan sama seperti mom. Aku ingin, sangat ingin-malah- memiliki seorang anak. Anak yang lahir dari rahimku sendiri. Namun aku enggan memiliki suami. Aku takut suamiku nanti akan seperti dad. Hidup dalam penderitaan seperti mom. Dan pada akhirnya mati.

Tapi bukan berarti aku tidak memiliki orang yang aku sukai. Justin Bieber namanya. Ia adalah seorang mahasiswa jurusan kedokteran di universitas atlanta. Ia tampan, pandai dan kaya. Idaman semua perempuan. Aku sangat menyukai dirinya yang pandai dan cerdas. Aku tak menyukai wajahnya yang tampan atau kekayaannya yang takkan habis. Yang penting adalah cerdas.

Aku menyimpulkan bahwa perasaanku padanya adalah perasaan kagum. Kagum pada keahlian dan kepandaian yang tak kupunya. Aku sangat ingin masuk jurusan kedokteran, namun apa daya nilai tesku tak cukup untuk masuk jurusan itu. Justin sudah memiliki gadis yang ia sukai. Kendall Jenner, mahasiswi jurusan hukum.

Kendall sangat cantik, pandai dan sexy. Ia juga idaman semua laki-laki.tak hanya cantik diluar, tapi ia juga cantik didalamnya. Aku mengenal Kendall. Karena kami pernah satu shs. Ia baik dan sopan. Tak heran jika Justin menyukainya. Banyak gadis yang gigit jari setelah mengetahui Justin menyukai Kendall. Tapi mereka akan lebih gigit jari jika mengetahui bahwa aku seorang Caitlin Beadles, mahasiswi jelek dan bodoh inilah yang akan menjadi Mrs. Bieber yang sesungguhnya.

Kalian heran? Kalian tak salah, semua orang juga akan memasang tampang heran ketika melihat undangan pernikahan kami. Justin tak pernah mencintaiku sehingga ia tidak mungkin menikahiku karena ia menyukai Kendall. Aku pun begitu, walapun tak bisa kupungkiri bahwa aku menyukainya, tapi aku tak ingin menikah dengannya karena dari awalpun aku memang tak ingin menikah.

Kuelus perutku yang masih rata, tapi aku yakin bahwa beberapa bulan kedepan perut ini akan membuncit. Kalian tahu apa maksudku? Aku mengelus perutku, aku mengelus anakku. Yah..anakku. aku hamil. Aku hamil diluar nikah. Dan Justin-lah tersangka dari semua ini. Aku mencintainya. Tapi ia tak mencintaiku. Lalu kenapa ia menghamiliku?
Jawabannya singkat saja. orang mabuk pasti kehlangan akalkan? Itulah jawabannya. Hari itu aku mengambil kuliah jam malam. Karena aku berniat membantu kak David menopang kehidupan keluarga dengan bekerja part time disebuah cafe. Saat melewati salah satu lorong kampung yang sepi karena sudah malam memang, aku mendengar suara teriakkan frustasi dari seseorang laki-laki. Aku langsung mencari sumber suara dan keputusanku untuk mencari sumber suara itulah yang membawaku sampai seperti ini. Aku melihat tubuh lunglai seorang pria yang kukenal. Dia Justin, ditangan kanannya ada sebuah botol yang kukenali itu adalah botol yang berisi minuman keras. Pandangan kami bertemu. Mata hazel dan mata emerald. Saat itulah ia datang menghampiriku. Aku terdiam ditempatku semula. Aku ingin pergi dari sini, tapi entah kenapa kakiku sulit untuk digerakkan. Kaku, seolah aku disihir oleh tatapan mata itu.

Saat jarak kami tinggal beberapa langkah lagi, aku sadar dan dapat kembali menggerakan kakiku. Segera saja aku mengambil langkah lari. Terlambat! Ia telah menarik tanganku. Merengkuhku dengan paksa. Ia mencekokiku dengan minuman keras yang ada digenggamannya. Diciumnya bibir ini dengan paksa dan kasar. Hingga pada akhirnya aku tak dapat merasakan apapun lagi, kepalaku melayang terasa gelap. Kesadaranku menipis dan akhirnya jatuh dalam pelukannya. Terakhir kali yang kudengar adalah suaranya yang berkata ‘kenapa kau menolakku Kendall?’ hanya itu.
Aku tak merasakan apapun saat itu. Bahkan aku tak merasakan apa-apa saat keperawananku yang kujaga selama ini telah direnggut paksa olehnya. Aku menangis. Aku menangisi keadaanku. Tubuh telanjang dengan keadaan mengenaskan. Sakit, tubuhku terasa sakit semua. Seperti ada jarum kasat mata yang menusuk semua bagian tubuhku. Aku menatap punggungnya nanar. Ia yang melakukan semua ini. Aku berteriak frustasi. Ia hanya menatapku dengan jijik.

Tepat dihari ulang tahunku, aku mendapat hadiah dari Tuhan. Aku hamil. Hasil dari pemerkosaan itu. Aku memberitahu semua ini padanya. Kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah ‘gugurkan’. Aku tersentak kaget. Aku tak mungkin membunuh darah dagingku. Bagaimanapun bayi yang ada didalam rahimku ini adalah anakku, walaupun aku yakin ia tak menginginkannya. Ia melakukan ini karena sedang patah hati.
Ia ditolak cintanya oleh Kendall. Karena Kendall lebih memilih hidup dengan seorang pelukis muda bernama Greyson. Ia depresi dan akhirnya melakukan hal itu diluar kendali. Aku sangat mengutuk dirinya yang telah menjerumuskanku kedalam deritanya sendiri. Atau aku memang ditakdirkan untuk menderita? Aku tak tahu. Karena seolah peristiwa yang dialami momku seolah terulang dalam diriku. Bedanya saat itu dad menganiaya mom hingga tewas, sedangkan aku diperkosa Justin. Kesamaan mereka berdua-dad dan Justin-  sama-sama dalam pengaruh minuman keras. Aku mungkin beruntung tak berakhir seperti momku.

Aku menceritakan ini pada kak David. Karena aku berfikir percuma menutupi hal ini, karena akupun tak bisa menjalani hal ini sendirian. Karena aku bodoh, maka dari itu aku tak bisa menjalaninya sendiri. David mendatangi Justin di kediaman Bieber. Ia memintanya untuk menikahiku. Ini bukan kemauanku, karena aku berniat untuk membesarkan anak ini sendiri. Tapi kak David berkata, aku tak akan sanggup menjalani hidup sebaai orangtua tunggal. Kasihan ankku nanti jika terlahir tanpa seorang ayah, dan yang terburuk adalah aku dan ankku takkan sanggup menahan cibiran negatif dari orang lain tentang statusku yang melahirkan tanpa ada surat menikah dan status anakku yang lahir tanpa nama ayah di akta kelahirannya.

Jeremy Bieber, ayah Justin menyanggupi hal itu dengan alasan karena tak tahan menahan malu jika orang-orang tahu putranya menghamili gadis lain karena mabuk. Pernikahan pun digelar. Dan disinilah aku berdiri. Berdiri diatas pelaminan. Berdiri dengan gaun indah berwarna putih yang menutupi tubuh yang sudah kuanggap kotor ini. Kotor karena telah dijamah oleh tangan laki-laki sebelum aku menikah. Sedangkan Justin sendiri berdiri tanpa kharisma dengan tuxedo hitamnya. Apakah ia tampan? Tidak sama sekali. Tampangnya kusut, dan semakin kusut saja wajahnya ketika melihat Kendall hadir bersama Greyson di pesta ini.
Kami menyalami para tamu undangan yang datang. Para tamu menggumamkan kata selamat berbahagia. Tapi entah kenapa sugest dalam hatiku, mereka seolah berkata selamat menderita.

Tak ada binar bahagia dari aku maupun Justin. Karena memang pernikahan ini hanya dilandasi dengan malu dan bukan cinta. Dan inilah cerita hidupku berasal. Hidup yang selama ini kujalani ternyata akan berakhir seperti ini. Aku akan hidup sebagai seorang istri yang tak pernah diinginkan. Aku juga akan hidup bersama dengan ankku yang selalu dianggap sebagai buah kesalahan oleh Justin. Tapi aku akan berjuang untuk hidup ini. Aku akan hidup untuk anakku dan bukan untuk suamiku. Karena memang aku tak pernah menginginkannya.

Caitlin Bieber, itulah namaku. Nama keluargaku telah berubah seiring dengan berubahnya hidupku. Takkan ada lagi kehangatan yang biasa kurasakan saat nenek Dianne memelukku. Takkan ada derai tawa dan canda milikku dan kak David. Takkan ada senyuman dari semua sahabatku. Aku putus kuliah. Ayah mertuaku bilang, aku hanya perlu diam dirumah mengurus rumah tangga. Tak ada senyuman dan tak ada binar kebahagiaan dalam kehidupan rumah tanggaku. Semua terasa hampa dan sunyi. Walaupun serumah, Justin tak pernah menegur ataupun menyapaku seperti pasangan suami-istri lainnya.

Tak ada ucapan ‘selamat malam istriku’ kala aku berbaring disampingnya. Yang ada hanya tendangan kakinya yang mengusirku kala aku naik ke atas ranjang kami. Ia tak sudi tdur seranjang denganku. “jijik aku tidur denganmu” itulah yang keluar dari mulutnya.
Tak ada ucapan ‘selamat pagi sayang!’ saat aku terbangun dalam pelukannya. Yang ada hanya gerakkan tangannya yang menjambak rambutku jika ia lebih dulu bangun.
“dasar malas! Tidur saja yang kau bisa!” kalimat itulah ucapan selamat pagi ala suamiku. Ucapan yang lebih baik jika dibandingkan dengan ‘makian’.

Sakit, hatiku sakit. Aku merana. Tak pernah kudapatkan perlakuan baik darinya. Aku tidur disofa depan ruang tamu. Disanalah aku tidur bersama dengan ankku. Anak yang ada dalam kandunganku. Aku bertahan disini karena anakku. Bersabarlah nak, lahirlah kedunia dengan selamat. Dengan itu, kau bisa melindungi mommy. Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat kuliah dan baru pulang ketika larut malam. Tak jarang ia pulang mabuk. Dengan keadaan yang sangat tak enak untuk dilihat. Tak jarang aku menemukan noda-noda kemerahan disekitar leherny. Juga harum parfum wanita yang terkadang menguar dipakaiannya. Selama aku hamil, ia tak pernah sedikitpun menanyakan bagaimana keadaan anak dalam kandunganku. Ia tak pernah membawaku kerumah sakit untuk mengecek kehamilanku. Aku pergi sendiri. Ia tak pernah memberiku nafkah. Aku tak pernah dinafkahinya. Padahal yang kutahu, dad dan momnya selalu memberikan uang padanya untuk kehidupan keluarga. Tapi tak sepeser pun yang kudapatkan.

Aku memutuskan untuk bekerja dirumah. Aku meminta bantuan kak David untuk mengirimkan peralatan memasakku kesini. Aku mulai dengan membuat kue dan menitipkannya ke kedai yang tak jauh dari rumah kami dengan modal dari tabunganku. Uang dari usaha kecilku ini kugunakan untuk menyiapkan kelahiran ankku nanti dan juga makanku sehari-hari. Ya.. hanya untuk makanku. Karena ia tak pernah sudi makan-makanan yang kubuat. Ia selalu makan diluar.  Setiap hari hanya cacian dan makian yang dikeluarkan oleh Justin. Aku ikhlas menerima semua itu. Dan entah kenapa, aku malah semakin mencintainya. Bodoh? Ya aku bodoh. Orang pintar tak akan tahan hidup dengan orang seperti Justin. Hanya orang bodoh seperti aku yang akan tahan dengan siksaan fisik dan mental yang ia berikan. 

sebulan, dua bulan, sembilan bulan sudah aku bertahan dengannya. Aku merasakan sakit yang amat sangat mendera perutku. Aku akan melahirkan? Ya..ku pikir begitu. Aku berjalan dengan gagah ke tempat bidan. Tak kuhiraukan rasa sakit itu. Tekadku hanya satu, yaitu anakku harus lahir. Disaat banyak ibu muda yang bahagia karena dapat melihat anak mereka lahir kedunia didampingin suami mereka. Disinilah aku, berbaring menahan sakit. Berjuang untuk melahirkan anakku tanpa ada suami yang mendampingi. Aku berjuang sendirian.

Justin datang. Ia datang karena aku menelponnya. Aku tak ingin orang lain curiga karena aku melahirkan tanpa didampingi suami. Karena memang itulah yang diinginkan Justin. Justin ingin agar oranglain tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga kami. Ia selalu baik, ramah dan perhatian padaku didepan para tetangga, keluarga dan kerabatnya. Tapi jika tak ada mereka. Jangan harap, yang ada malah makian, pukulan dan tendangan.
“dasar istri merepotkan!” itulah kalimat terakhir yang aku dengar ketika kuberitahu kalau aku telah melahirkan. Ia duduk disamping tempat tidur rumah sakit. Begitu ia tahu aku melahirkan, ia langsung memindahkanku ke rumah sakit. Biasa, Bieber. Banyak gengsinya dari pada cintanya.

Ia duduk dengan tampang sumringah. Ya..sumringah karena disana ada dad, mom, dan kakaknya serta nenek Dianne dan kak David. Kita lihat saja nanti, begitu mereka semua pergi juga ia akan langsung mengacuhkanku. Tapi aku senag, biar sebentar tapi aku dapat melihat senyumnya. Aku hanya menatap wajahnya sendu. Semakin lama menatapnya aku semakin mencintainya, tapi seiring dengan perasaan cinta yang kurasakan, aku juga dapat merasakan sakit yang amat sangat dihatiku. Sakit yang berasal dari lubang dihatiku yang dibuat olehnya. Ku tatap malaikat yang ada didekapanku. Ia begitu mungil dan ringkih. Dia adalah putraku. Ia sangat tampan. Kulitnya putih kemerah-merahan. Rambutnya, matanya sama seperti ayahnya. Begitupun dengan raut wajahnya, putra kecilku ini begitu mirip dengan Justin. Melihatnya seperti melihat Justin. Masih terngiang ditelingaku, kata-kata Justin ketika pertama kali melihat putraku. 

“kenapa harus mirip denganku? Memuakkan!”. Putraku tak salah Justin, ia mirip denganmu semata-mata hanya untuk mengingatkanmu bahwa ia adalah darah dagingmu. Kau adalah ayahnya, dan sampai kapanpun itu tak akan pernah berubah. Aku ini takkan hamil jika tak ada sperma Justin yang masuk ke rahimku-kan?
“jadi siapa nama cucu tampanku ini?” pertanyaan itu keluar dari bibir seorang Pattie Bieber. Aku tersenyum. Mata emeraldku bergerak melirik Justin. Ia nampak berfikir keras. Sudah kuduga. Jangankan menyiapkan nama, peduli saja mungkin tidak. Aku menunduk sedih.
“kalian belum menyiapkan nama?” tanya ayah mertuaku, Jeremy Bieber bingung.
“hm..masalah..-“
“Jaxon. Jaxon Bieber..” ucapku lirih sambil menatap suamiku. Mungkin aku akan dipukulnya karena telah lancang memotong pembicaraannya. Tapi aku menolongnyakan?
Justin balas menatapku. Ia tersenyum. Kejelaskan lagi. Ia tersenyum padaku. Hatiku terasa meleleh. Walaupun aku tahu bahwa senyum itu hanya sandiwara belaka tapi aku tetap merasakan ada sisi baik suamiku. Karena aku harus mengakui, meski tak menginginkannya tapi aku mencintainya.

“Jaxon! Nama yang bagus Caitlin!” puji nenek Dianne. Aku tersenyum bahagia. Aku selalu berharap putraku akan menjadi lelaki yang gagah yang akan melindungiku nantinya. Menjadi lelaki lembut, berakal dan bertanggung jawab seperti ayahnya. Bagiku Justin yang sudah bersedia menikahiku adalah salah satu bentuk dari tanggung jawabnya. Hanya saja kelak aku ingin putraku tak melakukan ini, karena aku selalu berdoa agar ia menikah dengan orang yang dicintainya, sehingga ia takkan memperlakukan istrinya seperti dadnya memperlakukan mommynya. Walau aku selalu berharap Justin akan berubah dan pada akhirnya menerima keberadaanku dan Jaxon sebagai orang yang dicintai dan bukan sebagai pengganggu. Perlahan aku merasakan tangan lembut milik ibu mertuaku mengambil Jaxon dari gendonganku. Aku mengizinkannya.

“Jaxon! Namamu Jaxon sayang!” ucapnya penuh dengan kebahagiaan. Kebahagiaan telah mendapat cucu. Hatiku kembali menangis. Aku selalu berharap bahwa yang mengatakan itu adalah Bieber lain dan bukan Pattie Bieber. Melainkan ayahnya, Justin Bieber.
Kehadiran Jaxon ditengah-tengah kami tak lantas membuat Justin melunak. Kehadiran malaikat kecilku itu malah semakin membuatnya menjadi. Ia jadi lebih kasar dan cepat marah. Kesalahan kecil saja selalu ia besarkan. Dan akhirnya, aku pulan yang menjadi sasaran empuknya.

“dasar bodoh! Begitu saja salah!” kata itulah yang kuterima pagi ini bersamaan dengan gerakkan tanggannya yang menamparku. Kenapa dia begini? Masalahnya sepele. Hanya karena aku salah mengambil kaus kaki. Aku menagis. Tapi hanya dalam hati saja. jika aku menangis didepannya, aku akan semakin disiksanya.
Ia pergi meninggalkanku sendirian di ruang keluarga. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang tegap. Punggung yang tak pernah kusentuh dan tak pernah kujadikan sandaran.
“jangan keluar! Ingat itu!” perintahnya. Aku tahu kenapa ia tak mengizinkanku keluar. Karena aku tak boleh menunjukan tanda merah ini. Tanda merah dipipiku. Agar orang-orang tak curiga dan selalu menganggapnya sebagai Mr. Bieber yang menyayangi istri dan anaknya.
“oh dan satu lagi..” suaranya kembali terdengar, tubuhnya berbalik menatapku. Aku masih dalam posisiku. Jatuh tersungkur dan belum ada niat untuk berdiri. Ia berjalan kearahku. Tubuhku bergetar hebat saat ia mulai berjongkok didepanku dan mulai mengangkat tangan kanannya.

Aku memejamkan mataku. Aku takut. Aku takut pada suamiku sendiri. Perlahan kurasakan bukanlah sakit akibat pukulan suamiku. Melainkan ada sesuatu yang aneh dan belum pernah kurasakan. Aku membuka mataku. Mataku kabur akibat ada selaput bening tipis yang menutupi mataku. Aku berkaca-kaca dan setelahnya air mata itu tumpah. Aku dapat melihat dengan jelas wajah suamiku yang begitu dekat. Matanya yang coklat hazel hidungnya yang mancung dapat kulihat sempurna. Aku juga dapat melihat dan merasakan tangan kanannya mengusap pipiku lembut.

Aku tak berbuat apa-apa. Aku bahagia. Inikah rasanya disentuh oleh orang yang kucintai? Justin terus bertahan dan akupun begitu. Perlahan kupejamkan mataku, merasakan dan meresapi sentuhan Justin. Hampir sekitar 1 menit, Justin melepaskan tangannya dari pipiku. Aku merasa kosong dan hampa. Perlahan aku membuka kemabli mataku dan tiba-tiba..

PLAK..

aku merasakan ada sesuatu yang menampar wajahku. Aku mengerjap kaget dan melihat banyak lembaran uang yang berserakan ditubuhku.
“itu uang untukmu! Berhentilah berjualan! Membuatku  malu!” ujarnya seraya berdiri dan berbalik meninggalkanku. Sekilas aku dapat melihat tatapan jijiknya yang selalu ditujuan padaku. Tangisku sudah tak dapat dibendung lagi. Sebagai istri aku merasa terhina. Tak adakah cara yang lebih baik, dan hasuskah ia memberi uang padaku dengan cara melemparnya? Ia melakukan itulah seolah aku pelacur yang baru dibayarnya. Bahkan mungkin pelacur sekalipun tak diperlakukan seperti itu.

Aku menangis dalam diam. Bertubi-tubi hinaan yang diberikannya padaku. Setelah sentuhan hangatnya yang membuatku melambung tinggi, ia langsung jatuhkan aku dengan penghinaan seperi ini. Aku menatap nanar lembaran uang yang berserakkan dilantai. Aku mengambilnya satu-satu, mengumpukannya. Dengan uang ini aku dan Jaxon aka tetap hidup. Ditengah rasa sakit yang mendera batinku, ada secercah harapan bagiku. Ya.. harapan bahwa Justin telah memikirkan kehidupanku. Ia telah menafkahiku walaupun dengan cara yang hina begini, aku tetap bersyukur. Terima kasih Tuhan..
Ku tatap wajah damai milik putraku. Tuhan, diusianya yang baru menginjak 4 bulan ini ia begitu tampan. Aku jadi teringat dengan ucapan tetangga sebelah yang mengatakan bahwa Jaxon adalah copy Justin. Mereka begitu mirip. Aku bahkan tak menemukan kemiripan antara aku dan Jaxon. Dengan melihat Jaxon, aku seperti melihat Justin. Apa mungkin Justin sewaktu bayi seperti ini?
Jaxon menggeliat dengan manja saat aku menyentuh pipinya yang bulat dan ranum mirip seperti bakpau. Hah.. mungkin jika ia dewasa, pasti Jaxon tampan dan gagah seperti Justin. Semoga saja.
Aku melirik jam yang menggantung dikamar Jaxon. Sudah jam 1 malam, tapi Justin belum juga pulang.  padahal paling malam biasanya hanya sampai jam 12.

TOK..TOK..

Baru saja aku mencemaskan Justin, sudah ada orang yang mengetuk pintu. Aku langsung tahu bahwa itu adalah Justin, terdengar dari suara ketukannya yang keras. Aku langsung berlari menuju pintu dan mendapati tubuh limbungJustin yang langsung menimpa tubuhku. Untung aku sigap sehingga tak sampai kehilangan keseimbangan.
“Ju..Justin.. kau..hm..mabuk ya?” tebakku. Dari mulutnya tercium bau alkohol yang menyengat.
“heh.. dasar istri tolol! Mau..aku..hik..mabuk itu suka-suka aku ding..heh?” ia mulai mengoceh tak jelas. Aku segera membawanya ke sofa. Namun tiba-tiba saja..
Bugh..
Tubuhku terlempar jauh. Justin melemparku dengan kasarnya. Aku jatuh tersungkur. Kurasakan sakit yang mendera punggungku.
“akh..! Justin lepaskan!” aku meronta tak berdaya saat Justin mulai menjambak rambut panjangku dan menyeretku. Kurasakan pusing yang amat sangat. Justin tak hanya menjambak rambutku tapi juga dipelintirnya. Aku mengerang kesakitan tapi tak dihiraukannya.
“kenap..hik..kenapa kau menagis hah?” ia menyeringai tak jelas. Aku semakin takut. Ia mulai mengoceh. Tiba-tiba saja tubuh Justin mendekatiku.
“ampun..” bisikku lirih.
“hah.. ampun? Kau jalang! Muak aku melihatmu! MATI SAJA KAU!” kurasakan kedua telapan tangannya mencekik leherku. Napasku tercekat. Apa aku akan mati sekarang?
Sayup-sayup aku mendengar suara jerit tangis Jaxon. Kulihat mata Justin semakin berkilat marah. Ia segera melepas tangannya dari leherku dan berjalan menuju kamar Jaxon. Tidak takkan kubiarkan ia menyakiti putraku.
“LEPASKAN AKU BODOH!”
“tidak! Jangan sakiti Jaxon. Ak-aku saja..” tubuhku bergetar hebat saat menahan kakinya. Tapi dengan mudah ia membuat tubuhku terlepas. Aku ditendangnya. Au tak putus asa. Aku mencoba cara teakhir. Bagaimanapun akan ku lakukan asalkan putraku selamat.

Aku berlari mendahuluinya. Memasuki kamar Jaxon dan menguncinya dari dalam. Justin tak menyerah. Ia masih menggedor-gedor pintu. Aku meringkuk sambil memeluk Jaxon. Ini bukan pertama kalinya Justin memperlakukanku seperti ini. Tapi ini baru yang pertama kalinya ia menyakitiku sampai melibatkan Jaxon.
Beberapa lama, aku tak mendengarkan suara Justin lagi. Ia sudah berhenti. Aku bernapas lega. Jaxon menatapku. Aku tersenyum. Kucium pipi ranumnya. Seolah mengerti perasaan momnya, tangan-tangan mungil miliknya mengusap pipiku. Aku menangis, Jaxon memang melaikat pelindungku. Jika ia tak mejerit dan menangis tadi, mugnkin aku takkan selamat. Terima kasih nak..

4 tahun sudah aku menjalankan hubungan sebagai suami dan istri. Tapi tetap tak ada yang istimewa didalamnya. Aku bodoh, karena itulah aku bertahan menjalani rumah tangga dengan Justin. Aku yakin orang lain mungkin takkan sanggup berhadapan dengan suami sepertinya. Dan hanya orang bodoh sepertiku sajalah yang justru malah semakin mencintainya. Setiap pukulan, tamparan dan tendangan sudah kuanggap sebagai makanan sehari-hariku. Aku sudah terbiasa. Benar-benar miris bukan?
Sejak kejadian itu, Justin semakin acuh padaku dan Jaxon. Ia tak pernah mau mengurus bahkan memperhatikan perkemabngan Jaxon. Aku mengurus semua keperluan Jaxon sendiri. Justin hanya berperan sebagai pemberi nafkah kami, dan tak pernah sedikitpun ia menggendong Jaxon. Menyentuhnya saja tidak.

Hari ini aku bermaksud ingin menyekolahkan Jaxon ditaman kanak-kanak. Karena memang usianya yang menginjak 4 tahun 3 bulan. Kupikir sudah cukup untuk Jaxon untuk mengenyam pendidikan. Namun aku tak mungkin melakukannya sendiri. Aku memberanikan diri mengetuk pintu kamar Justin. Ya..mulanya memang kamar kami, tapi aku tak pernah tidur di dalamanya sehingga kuanggap ini kamar Justin.

Tok..tok..tok..

“siapa?” suaranya terdengat dari dalam.
“ini aku.. caitlin.” Jawabku lirih. Lama sekali ia menjawab, sampai akhirnya ia mengizinkanku masuk kekamrnya. Kulihat ia sedang duduk diranjang sambil membaca buku kedokterannya yang tebail itu. Aku duduk bersimpuh disamping ranjang tempat ia berbaring dan inilah memang kebiasaanku jika ingin berbicara dengannya. Anggaplah aku ini adalah pembantunya.
“apa perlumu?” tanyanya sinis dan tetap tak berpaling dari buku tebalnya. Aku menghela nafas panjang, berharap dapat menghilangkan rasa gugupku.
“a..aku ingin memintamu menyekolahkan Jaxon di taman kanak-kanak, Justin..” jawabku lirih.

Bruk..

Terdengar suara buku kedokterannya yang ditutup secara paksa. Aku memejamkan mataku cepat sebelum akhirnya terbuka kembali dan mata kami langsung bertemu.
“itu bukan urusanku!”
“tap..tapi Justin, Jaxon putramu jugakan? Aku..ak..aku..maksudku Jaxon lahir karenamu jugakan?”

PLAK..

Kurasakan pipiku memanas. Aku ditamparnya. Ya..aku pantas mendapatkannya. Karena aku telah lancang, mengungkit kembali masa lalu kami. Tapi aku takkan menyerah ini demi putraku juga.
“tapi kalau Jaxon tak kau sekolahkan, bagaimana nasibnya nanti? Ia butuh semua itu Justin! Aku mohon!” aku mengemis belas kasihannya. Sangat menjijikan. Tapi aku harus melakukannyakan?
Justin sedikit berpikir. Ia menatapku sini dan pada akhirnya ia menghela napas panjang.
“baiklah kalau kau memaksa! Lagipula apa kata keluargaku nanti jika ia tak bersekolah!” aku tersenyum lalu menggumamkan kata terima kasih.

“mom, apakah Jaxon sudah tampan?” suara kecil milik putraku terdengar. Aku tersenyum bangga padanya. Kutatap tubuh mungil gagah nan mungil miliknya.
“tentu saja sayang!” jawabku. Jaxon tersenyum senang. Hari ini adalah hari pertama Jaxon sekolah. Aku sudah mengantongi izin dari Justin.
“mom..”
“hm?”
“apa dad akan menemani Jaxon sekolah?” aku tertegun dengan pertanyaan itu. Aku menangkap ada raut sedih diwajah putra semata wayangku ini. Tangan-tangan mungilnya bergerak memperbaiki dasi seragam taman kanak-kanaknya yang miring.
“dad sibuk sayang! Biar mom saja yang antar Jaxon sekolah ya?” aku mencoba menghiburnya. Tapi sepertinya tak berhasil.
“kenapa dad selalu sibuk? Kenapa dad tak pernah menemani Jaxon? Kenapa..kena..kenapa dad jarang bermain dengan Jaxon? Ken..kenapa harus dengan..dengan mommy?” ia mulai terasa teriris. Anakku pun merasakannya. Ini yang aku takutkan.
“Jaxon, dengarkan mom sayang..” aku merangkul tubuhnya. Hangat. Kuusap lembut pipinya yang mengeluarkan air mata. Tak boleh, kau tak boleh menangis nak..
“dad sibuk sayang, jadi tak bisa menemani Jaxon sekarang. Akan ada waktunya nanti Jaxon akan bersama dad. Sabar ya sayang..”
“tap-tapi.. mommy selalu bilang begitu! Tapi apa? Dad masih saja mengacuhkan Jaxon. Dad nggak sayang sama Ja..Jaxon kan, mom?” aku terdiam. Mungkin benar nak, ayah mungkin tak sayang padamu. Tapi ada mommy disini.
“Jaxon tak boleh bicara seperti itu nak! Jaxon percaya mom kan? Dad sayang sama Jaxon! Kalau dad nggak sayang sama Jaxon, dad nggak mungkin sekolahin Jaxon kan?” aku mencoba meyakinkan Jaxon. Kulihat perlahan Jaxon menggerakan tangannya untuk mengusap air matanya. Aku tersenyum lemah. Tuhan, diusianya sedini ini putraku harus mendapatkan kesedihan yang seperti ini.
“iya mom, maaf ya mom.” Aku tersenyum bangga padanya. Inilah putraku. Ia kuat meski terus diterjang oleh penderitaan seperti ini. Ya..aku yakin putraku ini menderita jika terus diacuhkan dad-nya. Kupeluk tubuhnya sekali lagi.
“mom menangis?” lagi-lagi aku tak mampu menahan emosiku.
“Jaxon nakal ya ?” lanjutnya.
“tidak sayang! Ayo cepat berangkat, nanti kita terlambat.”

“namaku Jaxon Bieber, mohon bantuannya.” Aku tersenyum saat putra kecilku berdiri didepan kelasnya. Memperkenalkan diri didepan kelasnya. Ia sama sekali tidak gugup, nampak gagah dan tampan. Kulihat ada beberapa anak perempuan nampak memerah wajahnya akibat melihat wajah putraku. Hah.. dasar Justin kecil. Banyak saja fansgirl-nya.
“selamat pagi.” Tiba-tiba ada suara seseorang yang mengagetkanku. Aku langsung menoleh ke sumber suara. Kulihat disampingku ada seseorang laki-laki muda. Nampaknya 3 tahun lebih tua dariku. Rambutnya blonde. Sangat tampan.
“ah..selamat pagi!” balasku ramah. Ia tersenyum. Mendadak wajahku memanas melihat senyumnya. Langsung saja kuahlikan wajahku kearah jendelan kelas Jaxon.
“nampaknya Jessica cepat akrab dengan putra anda ya.” Ucapnya seraya mengikuti arah pandanganku. Aku menyipitkan mataku.
“ah..iya! dari mana anda tahu itu putra saya?” tanyaku heran.
“karena sedari tadi pandangan mata anda tak lepas darinya.” Jawabnya ramah. Aku tersenyum. Kuulurkan tanganku, mengajaknya berjabat tangan.
“Caitlin Bieber. Dan itu Jaxon Bieber putra saya. Anda?”
“Cody Simpson. Itu putri saya. Jessica namanya. Senang bertemu dengan anda Caitlin.” Ia memperkenalkan diri. Kulihat Jaxon sedang bermain puzzle bersama Jessica.
“putra anda tampan!” ia memuji Jaxon. Entah sudah berapa kali aku mendengar pujian itu. Putraku memang tampan.
“pasti mirip ayahnya!” aku tersenyum. Memang secara fisik mirip dadnya. Justin Bieber.
“anda datang sendiri?”
“ya begitulah. Seperti yang anda lihat.” Ujarku ramah.
“maaf, tapi dadnya Jaxon tidak ikut mengantar?” aku terdiam. Kalau saja bisa, aku juga ingin mengajak Justin. Bagaimanapun ini adalah hari pertama Jaxon sekolah. Lagipula sedari tadi kulihat teman-teman Jaxon yang lainnya diantar oleh kedua orangtua mereka. Ia pasti terpukul.
“ah..tidak! kebetulan dadnya Jaxon sedang sibuk bekerja, jadi tak bisa mengantarnya kesini!” jawabku agak berdusta. Sibuk tak sibuk pasti kau tak mau mengantar Jaxon kan Justin? Aku tersenyum pahit.
“anda sendiri? Tidak bersama istri?” tanyaku.
“kami sudah bercerai.”
“maaf, aku tak bermaksud untuk-“
“tak apa! Santai saja cait..” ia tersenyum manis. Manis sekali. Aku agak tersipu. Selalu kubayangkan wajah Justin yang tersenyum manis seperti itu.
“sudah hampir 4 tahun kami bercerai.”
“4 tahun? Ah.. maaf, maksudku usia Jessica –“ tanyaku heran. Kalau sudah 4 tahun bercerai berari ketika Jessica lahir, mereka bercerai? Sepertinya aku sok tahu.
“benar, 2 bulan setelah Jessica lahir, istriku meminta cerai dariku! Dan hak asuh Jessica sepenuhnya ia berikan padaku tanpa ada niatan baginya untuk mempertahankan Jessica.” Ucapnya pahit. Aku tersentuh. Ternyata ada juga orang yang kehidupan rumah tangganya tak berjalan mulus.
“maaf Cody, aku tak bermaksud untuk-“
“tak apa. Bagiku itu masa lalu.” Aku tersenyum mendengarnya. Setelah itu kami saling bercakap-cakap tentang kehidupan masing-masing. Cody juga menyenangkan, ia berbagi banyak pengalaman dalam menjalani hidup.

“MOMMY!” tiba-tiba suara pekikan Jaxon terdengar. Tak terasa jam belajar Jaxon telah usai. Pasti karena terlalu asyik mengobrol dengan Cody. Orang yang menyenangkan.
“mommy! Mommy! Ini Jessica, teman Jaxon. Jessica ini mommyku.” Aku tertawa kecil saatmelihat tangan Jaxon menggenggam erat tangan mungil Jessica dengan wajah memerah.
“selamat siang mommy. Namaku Jessica simpson.” Ucap Jessica malu-malu.
“sayang, ini aunty Caitlin. Bukan mommy sayang!” jelas cody sambil mengelus kepala anaknya dengan lembut. Anak kecil itu hanya tersenyum malu. Aku sendiri jadi tersipu. Andai saja Justin bisa sehangat ini.
“Jaxon, ini Uncle cody sayang. Dadnya Jessica.”
“selamat sing, uncle.” Jaxon tersenyum.
“ih.. kok Jessica digendong?” pekik Jaxon heboh saat melihat cody menggendong Jessica.
“Jaxon, Jessica kan cape!” Jessica langsung menenggelamkan wajahnya di leher cody. Ia malu. Jaxon langsung menggembungkan pipinya, aku tak tahu apa alasannya putraku melakukan hal itu. Tapi dari sini aku tahu kalau Jaxon memang mewarisi rupa dadnya, tapi sifatnya sepertinya mengarah padaku.
“wah.. jessica malu ya?” goda cody. “ayo Jaxon harus bertanggung jawab. Jessica menangis lho.” Goda cody lagi. Ia tersenyum kecil padaku. Aku mengerti maksudnya.
“jaxon, ayo minta maaf sama Jessica sayang.”perintahku lembut sambil mengangkat tubuh Jaxon dan menghadapkannya pada Jessica. Jaxon terlihat kikuk menghadapi teman barunya yang katanya menangis. Tapi aku yakin Jessica tak menangis. Pasti hanya akal-akalan cody saja untuk menggoda Jaxon.

“Jessica, jangan menangis. Nanti Jaxon belikan es krim deh.” Ujarnya. Aku tertawa geli. Bisa-bisanya putra kecilku ini merayu sahabatnya.
“’Jessica tak menangis kok.” Jessica muncul dengan wajah memerah. Jaxon langsung mendelik kearah cody.
“uncle! Uncle berbohong!” tuduh Jaxon. Cody hanya tertawa mendengar tuduhan Jaxon.
“habis, kalian lucu sekali! Nah, Jessica kita ajak Jaxon sama Mommy makan ditempat es krim langganan kita yuk!” ujarnya pada Jessica. Kurasakan pipiku memanas saat mendengar cody memberikan penekanan pada kata mommy. Dasar tadi bilangnya jangan panggil mommy.
“ jaxon sama mommy ikut jessica sama dad ke tempat es krim yuk!” ajak jessica semangat. Jaxon langsung menatapku dengan tatapan memohon.
“mom, dad tak marahkan kalau kita jalan-jalan dengan Jessica?” tanya jaxon penuh harap. Jujur ada perasaan takut dalam diriku. Takut justin marah jika aku terlalu akrab dengan laki-laki lain. Tapi kasihan Jaxon, ia belum pernah jalan-jalan keluar rumah selain ke rumah keluarga.
“baiklah, tapi mungkin kita tak bisa lama-lama sayang.” Aku mengizinkan. Jaxon tersenyum senang. Tak apalah, hanya sebentar. Toh mungkin Justin tak akan peduli dengan kami.

Justin pov
Senyum cerah terkembang dibibirmu. Kulihat kau begitu bahagia. Akhir-akhir ini aku sering melihatmu bersenandung kecil dan terkadang tertawa. Kupikir, kau gila, karena tak biasanya kau seperti itu. Selama menjalani hidup rumah tangga yang pahit ini, aku belum pernah sekalipun membuatmu tersenyum semanis ini.
Selalu saja air mata yang kau suguhkan padaku. Membuatku muak. Tapi kini, kulihat kau begitu bahagia dan senang dengannya. Ya, dengannya, dengan pria lain.
Aku menatap frustasi dirimu dari balik kaca mobilku. Kau tak sendiri. Ada Jaxon, seorang anak perempuan manis dan sosok pria yang duduk bersebrangan denganmu. Kau terlihat menikmati potongan-potongan es krim dikedai itu sambil bercengkrama dengannya. Kalian terlihat seperti keluarga utuh yang terdiri dari ayah, ibu dan kedua anaknya.

Hatiku terasa panas. Kenapa aku ini? Seharusnya aku tak boleh seperti inikan? Aku tak memiliki perasaan apa-apa padamu. Aku tak peduli sedikitpun padamu. Tapi kenapa setiap kali melihatmu berdekatan dengan pria lain membuatku kesal? Apakah kau selingkuh? Ini sudah yang ketiga kalinya aku melihatmu bersama dengannya. Kau tersenyum, tak ada rasa takut sedikitpun saat bersamanya. Sedangkan bersamaku? Kau selalu menunjukan rasa takutmu. Kau selalu menangis. Kau bahagia dengannya dan merana denganku. Kalau tahu begitu, kenapa kau tak minta cerai padaku? Kenapa kau terus bertahan dengan rumah tangga yang berlandaskan sandiwara ini?
Kulihat juga Jaxon menerima pria itu dengan baik. Ia tak sedikitpun menunjukan rasa takutnya seperti saat berhadapan denganku. Apa ini sosok dad yang ia inginkan? Dan aku bukanlah sosok dad yang ia inginkan. Membuatku marah. Apa aku hanya bisa menyakitimu? Aku ingin menyentuhmu cait. Tapi aku takut, takut kau menolaknya. Entah kenapa aku selalu merasa puas setelah memukulmu, menamparmu, menendangmu atau yang lainnya. Apa aku ini seorang psikopat? 

psikopat yang menunjukan rasa sayangnya dengan kekerasan? Psikopat yang menunjukan rasa cintanya dengan hinaan? Aku payah! Kenapa mendadak jadi lemah begini? Mau bagaimana pun aku tetap tak akan pernah mencintaimu. Aku takkan mencintai caitlin. Karena kami bersama pun karena kesalahan. Dan itu takkan berubah.

Author pov
“mom, besok boleh main sama jessica lagi?” tanya seorang anak laki-laki bermata hazel pada sosok ibunya. Sang ibu tersenyum dan mendekatkan dirinya pada sang anak. Merangkul anak laki-laki itu dan menatap matanya dengan hangat.
“sayang, besokkan hari libur. Biarkan jessica dan uncle cody istirahat sayang.”
“yah..” anak laki-laki bernama lengkap Jaxon Bieber itu mengeluh mendengar penjelasan momnya, caitlin. Ia menundukan wajahnya dan sesekali tangan mungilnya mengaduk-aduk es krim vanilla yang ada dihadapannya.
“jaxon tak usah sedih. Nanti kita main lagi! Iyakan, dad?” ayah sang gadis hanya tersenyum menanggapi putrinya yang berniat menghibur sahabatnya yang bersedih.
“Jaxon kesepian.” Ungkap Jaxon.

Caitlin tersenyum hambar menanggapi pengakuan putranya. Memang benar, setiap hari Jaxon hanya bermain sendirian dikamar dengan Hula. Hula berbentuk seperti anak laki-laki. Matanya terbuat dari kancing baju, sedangkan mulutnya hanya dari untaian benang. Hula adalah boneka yang dibuat caitlin saat usia Jaxon 4 bulan. Hula dibuat sebagai ucapan terima kasih caitlin pada Jaxon yang telah menyelamatkannya dari Justin saat mencekiknya waktu itu.

“Jaxon, bagaimana kalau uncle traktir vanilla milkshake? Nanti Jaxon bawa pulang milkshake-nya buat menemani Jaxon dirumah nanti.” Tawar cody lembut. Cara ini adalah cara paling ampuh yang sering ia gunakan pada Jessica yang sedang merajuk.
“cody, tak perlu-“
“tidak apa-apa cait. Tenang saja.”
“ayo jess, temani jaxon.” Jessica tersenyum dan langsung menggandeng tangan Jaxon.
Caitlin sebenarnya tidak enak pada cody. Sudah 3 hari ini, cody selalu mentraktirnya dan jaxon makan es krim. Caitlin bukanlah perempuan murahan yang begitu saja menerima ajakan pria yang baru dikenalnya. Apalagi ia telah memiliki suami. Ya, walaupun kita semua tahu ia tak bahagia hidup dengan suaminya, tapi tetap saja ia tak boleh sembarangan menerima ajakan pria lain. Tapi apa daya. Ia kasihan melihat jaxon. Ia ingin putranya itu bahagia. Dan kemungkinan kebahagian jaxon ada pada sosok cody. Selama ini jaxon tak pernah sedikitpun mendapat perhatian dari justin. Setiap hari ia hanya bermain dirumah. Justin tak memperbolehkan jaxon bermain dengan anak tetangga. Walaupun setiap hari caitlin menemani putranya bermain, tapi tetap saja itu tak membuat jaxon senang. Disaat banyak anak seusianya memiliki banyak mainan, jaxon hanya memiliki 1 boneka butut yang sudah banyak lubangnya.
“ada yang mengganggumu cait?” tanya cody lembut.
“tidak ada. Hanya saja kau terlalu baik padaku dan kurasa ini berlebihan!” tegas caitlin.
“soal itu tak apa. Kasihan jaxon dan jessica. Mereka berdua sama-sama kesepian. Dirumah jessica selalu murung dan protes karena aku pulang malam terus. Lagipula kulihat jaxon juga begitu.” Cody menyenangkan. Tapi justru ini semakin membuat caitlin takut. Bukan takut pada cody yang akan berbuat macam-macam karena ia yakin cody adalah pria baik. Tapi ia takut pada perasaanya. Ia takut perasaannya pada cody berubah dan pada akhirnya akan melupakan Justin.

“hei. Apa itu?” tanya cody mengejutkan caitlin. Tangan kekarnya bergerak menuju leher caitlin. Disingkirkannya beberapa helai rambut caitlin yang menutupi sesuatu dilehernya. Refleks caitlin langsung menepis tangan cody dan memegang lehernya. Dirasakan wajahnya memanas sekarang.
“hm.. tak kusangka suamimu agresif juga ya?” goda cody. Caitlin hanya tersenyum salah tingkah sambil menutupi ruam kebiruan dilehernya. Ruam atau bisa disebut memar yang sama sekali bukan berasal dari ‘kissmark’ Justin. Melainkan berasal dari cekikan Justin 2 hari yang lalu. Kenapa justin mencekiknya? Biasalah, justin sedang kalah taruhan. Dan caitlin-lah yang menjadi sasarannya.
“cait, sepertinya jaxon butuh teman! Berikanlah ia adik. Lain kali diskusikan masalh ini pada suamimu ya!” lagi-lagi caitlin hanya tersenyum menanggapi godaan cody. Andai saja cody tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangga mereka, mungkin sekarang ia takkan bisa bicara seperti itu. Karena bagaimanapun perasaan justin pada dirinya takkan berubah. Kenyataannya adalah suaminya sendiri tak mencintai dirinya.

Jam sudah menunjukan pukul 1 siang. Waktu 2 jam rasanya cukup bagi caitlin dan jaxon untuk berjalan-jalan. Caitlin menolak ajakan cody untuk mengantarnya dan jaxon sampai rumah. Ia lebih memilih berjalan kaki dibanding harus merepotkan cody.
“mom, ayo cepat! Hula pasti sudah menunggu jaxon dirumah!” pekik jaxon keras sambil menarik-narik lengan caitlin untuk segera membuka pagar rumah mereka yang setinggi 2 meter itu.
“iya. Ini juga mom sedang buk-“ kata-kata caitlin terhenti manakala menyadari gembok rumahnya telah terbuka. Itu pertanda bahwa telah ada orang yang masuk kerumah ini sebelum caitlin. Hanya ada 2 kemungkinan, antara ada maling yang membobol rumahnya atau..
“ya, Tuhan!” ia segera mendorong pintu pagar itu dan seketika mata emeraldnya terbuka lebar. Kakinya mendadak lemas. Yang membuatnya lemas adalah bukan karena melihat ada seseorang maling yang sedang membobol rumahnya. Melainkan lebih buruk, ia melihat sebuah mobil range rover hitam milik suaminya yang terparkir digarasi rumah. Justin sudah pulang bekerja.
“dad sudah pulang mom!” seru jaxon semangat dan segera menerobos pintu kayu rumahnya. Namun dengan sigap caitlin meraih tubuh mungil putranya yang terbalut seragam sekolahnya itu dan langsung menggenggam tangannya.

“tetaplah bersama mom, nak.” Lirih caitlin bergumam ditelinga putranya. Disaat banyak istri senang mendapati suaminya pulang cepat, caitlin justru takut. Ia takut, tak biasanya justin pulang cepat. Terakhir justin pernah pulang cepat karena ayah dan ibu mertuanya datang. Caitlin sedikit bernafas lega. Karena mungkin saja sekarang ayah dan ibu mertuanya sedang berkunjung. Ya, semoga saja begitu.
“aku pulang.” ucap caitlin lirih. Ia mulai berjalan memasuki ruang tamu. Kosong. Tak ada siapapun. Padahal disinilah tempat favorit sang ayah mertua saat berkunjung. Caitlin menahan napas dan mulai mempersiapkan mentalnya untuk hal buruk. Sepertinya Tuhan belum mau menyudahi penderitaan wanita ini. Karena benar saja, ketika ia melangkah menuju ruang keluarga terlihat disana berdiri Justin yang sedang menatapnya tajam.
“ju..ju..justin aku pulang.” ucap caitlin gemetaran. Takut yang sangat amat melanda dirinya. apa yang akan caitlin lakukan jika mendapati dirinya pulang terlambat? Mau beralasan pun pasti sulit karena Justin tahu betul kapan seharusnya Jaxon pulang sekolah.

PLAK!

“mommy!” satu tamparan keras mendarat dipipi kanan caitlin. Membuat wanita kurus itu jatuh terlempar. Cairan asin berbau anyir mengalir dari sudut bibir dan kepalanya.
“mommy!”jaxon langsung menhampiri mom-nya. Namun terlambat. Tangan kasar sang dad telah menghambatnya.
“dad, lepaskan jaxon!” berontak jaxon. Tapi apa daya, tenaga tubuh bocah 4 tahun takkan sebanding dengan kekuatan dad-nya. Jaxon masih menjerit-jerit minta dilepaskan, dan suara jeritan itu menyadarkan caitlin.
“lepaskan tanganmu justin. Kumo..hon..” caitlin menggelayuti kaki suaminya. Memohon agar jaxon dilepaskan. Tapi dengan mudahnya, tubuh caitlin kembali terlempar. Dan jaxon pun telah terkunci dikamarnya.
“mommy!”
“jaxon!” pekik mommy dan anaknya tak berdaya. Sang dad hanya menyeringai puas dan mendekati tubuh tak berdayaistrinya.
“menikmati acara jalan-jalanmu itu, wanita jalang?” desis justin. Caitlin hanya bisa membelakakan matanya saat menyadari ternyata alasan marahnya justin bukan karena keterlambatannya pulang. melainkan mengenai cody.
“kau..salah pa..ham just-“ dirasakan kepalanya sakit saat justin mulai menjambak rambut coklat gelombangnya.membuat wajahnya mendongak paksa. Air mata sudah deras mengalir dari pelupuk matanya.
“salah paham? Hah salah paham? Apa aku tak salah dengar hah?”

PLAK!

Untuk yang kesekian kalinya tubuh mungil caitlin kembali terlempar. Justin belum puas dengan itu. Ia kembali menghampiri tubuh tak berdaya caitlin. Ia jambak lagi rambut coklat gelombang caitlin dan menyeret wanita malang itu ke ruang keluarga.

BUGH..BUGH..PLAK!!

Justin kembali memukuli, menampar, dan menendang tubuh caitlin tanpa ampun. Caitlin hanya meringkuk melindungi kepalanya dari serangan bertubi-tubi justin. Sakilas ia dapat melihat ada perasaan kecewa dan marah yang amat sangat tergambar dimata suaminya itu. Jarang sekali ia lihat. Pasalnya setiap kali justin menyiksanya, yang tergambar jelas dimata hazelnya adalah tatapan jijik dan kebencian.
Kesadaran caitlin pun perlahan mulai menipis. Darahnya sudah mulai berceceran dilantai. Sekilas telinganya mendengar makian justin yang menuduhnya.
“BERANINYA KAU BERBUAT LANCANG SEPERTI ITU!”
“SIAPA LAKI-LAKI ITU? KAU SELINGKUH HAH?!”
Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kenapa justin marah jika dirinya bersama pria lain? Justin tak pernah mencintainya kan?
“kenapa? Ke..kenapa..kau..ukh..marah padaku?” tanya caitlin terbata. Ia merintih kesakitan. Justin berhenti dengan aksinya dan menatap tubuh caitlin yang meringkuk kesakitan.
“kenapa? Kau tanya kenapa? Apa yang kau lakukan dibelakangku jalang?” desis justin ditelinga caitlin.
“kau..sendiri..ap-apa? Kau..hanya..menyiksaku..kau juga seling-selingkuh-kan?” ucap caitlin dengan sisa tenaganya.

PLAK!

Cairan merah mengalir lagi dari pelipis caitlin akibat tamparan justin.
“berani kau bilang seperti itu? Kau yang telah membuatku terikat dalam pernikahan bodoh ini jalang! Kau yang telah membuatku menderita! Kau yang membuatku harus menerima status ini!”
“LALU KENAPA KAU MENGHAMILIKU?” jerit caitlin frustasi. Ini sudah cukup. Semua penderitaannya, semua penyiksaan ini. Sudah cukup!
“aku takkan.. takkan menjadi istrimu jika kau..tak..mem..buuatku hamil!”
“kau bilang menderita? AKU JAUH LEBIH MENDERITA! AKU TAKKAN MENANGGUNG SEMUA INI JIKA KAU TAK MENGHAMILIKU!” justin terdiam. Ia mundur beberapa langkah. Caitling hanya menangis meraung-raung. Menangisi hidupnya, menangisi keadaannya dan menangisi sakit yang mendera tubuh serta hatinya. Sesekali ia memuntahkan darah dari mulutnya. Tenggorokannya terasa perih akibat berteriak.
“kenapa? Ke..kenapa..kena-ukh..ukh.. kenapa harus aku yang menanggungnya?” tanya caitlin. Justin masih terdiam tak menjawab.
“kenapa tak..kau..buat saja Kendall mengandung anakmu? Dengan i-itu kau..akan se-senangkan? Tap-tapi kenapa harus ak-aku?” tanyanya frustasi. Benar apa katanya, kenapa caitlin harus menanggung semuanya?

Justin menjatuhkan kelubang penderitaan karena penolakan kendall. Semua bermula dari kesalahannya. Jika saja ia berbesar hari menerima keputusan kendall dan tak bersikap bodoh, semua takkan pernah terjadi.ia takkan terlibat semua ini. Ia tak akan memupuk dosa dengan menganiaya istri yang seharusnya ia lindungi. Caitlin pun juga takkan terlilit penderitaan tanpa ujung seperti ini. Dan yang paling penting, putra mereka jaxon bieber takkan ikut menanggung penderitaan diusia yang begitu dini.
“hentikan!” desis justin. Dicengkram kepalanya erat. Pertanyaan-pertanyaan caitlin mengiang-ngiang ditelinganya.
“ak-aku..ikhlas..aku-pasrah..justin..mati ditanganmu pun..aku rela jika..bisa menghentikan..penderitaan..i-ini..”
BRAK!

Tiba-tiba sosok mungil jaxon terlihat dari pintu. Entah apa yang terjadi, tapi mungkin jaxon menggunakan kunci cadangan yang pernah caitlin titipkan padanya. Tapi disaat seperti ini kehadiran jaxon justru tidak menguntungkan caitlin. Bagaimanapun keselamatan putranya pasti akan terancam.

“DAD JAHAT! Dad jahat! Jaxon benci dad!” jerit jaxon seraya melayangkan pukulan-pukulan tak berarti dikaki dad-nya. Sang dad, justin sama sekali tak merespon pukulan putranya. Ia masih saja mencengkram kepalanya seperti orang sakit. Dengan sisa tenaganya, caitlin menarik tubuh jaxon kepelukannya. Ia segera memaksa jaxon untuk menunduk dihadapan dad-nya. Air mata kembali tumpah bercampur dengan darah yang mengalir. Bercampur menghasilkan warna kontras yang menyedihkan.
“minta maaf pada dad, nak!” paksa caitlin. Disaat seperti ini, ia masih ingin menunjukan bahwa ia bukanlah istri tak berguna, bodoh, atau yang lainnya. Ia ingin menunjukan bahwa selama ini mendidik jaxon untuk bisa menghargai dan menyayangi dad-nya. Bagaimanapun keadaanya.
“tapi mom..”
“hormati dad seperti yang mom ajarkan sayang! Ayo lakukan!” pekik caitlin putus asa. Jaxon hanya menuruti kata-kata caitlin dan menunduk meminta maaf pada justin. Pipi ranum jaxon yang semula putih berubah menjadi merah akibat darah mom-nya.
“mom..berdarah..” bulir-bulir bening mengalir dari mata hazel jaxon.
“tak..ukh-apa nak.” Caitlin tersenyum damai dan mengelus kepala jaxon lembut dan perlahan dengan sisa tenaganya ia memeluk putra semata wayangnya yang sedang menangis. Sakit dikepala justin semakin menjadi, ia tak sanggup melihat caitlin. Melihat darah yang mengalir serta memar yang terpahat di tubuh kurus istrinya. Jujur. Akan lebih baik jika saat ini juga caitlin pergi dari hadapannya, mengadu pada kakaknya dan meminta cerai.

Kenapa? Kenapa justru caitlin menatapnya dengan tatapan seperti itu. Kilau emeraldnya mengatakan bahwa ia sangat mencintai suaminya. Apa yang telah ia lakukan? Ia telah menuduh orang yang tak pernah disayanginya itu berselingkuh. Padahal apa kenyataannya? Caitlin seperti itu mungkin karena tak mendapatkan hak sebagai istri. Yaitu kebahagiaan dengan suaminya. Sehingga apa salahnya ia mencari kebahagiaan diluar? Dan kenapa ia marah? Padahal hampir seminggu sekali ia mencari kehangatan dengan wanita-wanita murahan yang mengobral dirinya di bar atau diskotik. Ia jauh lebih jalang dibandingkan caitlin. Caitlin berhak mendapat kebahagiaannya. Meskipun dengan laki-laki lain. Tapi yang ia rasakan apa? Sakit. Hatinya berdecit ketika melihat istrinya akrab dengan pria lain. Apa ini yang dirasakan caitlin ketika ia bermain dengan wanita lain? Kau hanya bisa menyakiti istrimu!

“ARGH!” teriaknya menggila dan keluar dari rumah. Caitlin menatap punggung justin dengan nanar. Perlahan rasa sakit menyeruak ditubuhnya. Bermula dari kaki dan berujung pada sakit dikepalanya. Kesadarannya mulai berkurang. Apa ia akan meninggal setelah dianiaya suaminya? Perlahan tapi pasti, rasa sakit itu kembali menyerang sampai pada akhirnya ia terjatuh dalam pusaran hitam yang membawanya terus jatuh dan jatuh kedalamnya.
“MOMMY!”
Tetes demi tetes cairan infus mengalir melewati selang bening untuk menyuplai nutrisi bagi si pemakai. Sebagian tubuhnya yaitu lengan kiri, pergelangan kaki kanan, lutut kaki kiri, serta kepala terlilit kain kasa putih dengan sedikit darah bercampur cairan antiseptik yang merembes.
“kau..apa yang kau lakukan pada adikku?” desis david murka. Ia tari kerah baju suami adiknya.
BUGH!
“KAU KEPARAT! Apa yang sudah kau lakukan pada adikku?” amuk david. Berkali-kali ia layangkan pukulan dan tendangan keras ke tubuh kekar justin. Justin? Hanya meringkuk tak melawan. Namun yang ia rasakan sekarang hanya ‘menyesal’
“dad!” pekik jaxon yang langsung melompat dari gendongan neneknya. Menhampiri ayahnya. Melindungi, memeluk kepala ayahnya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lainnya bergerak mencegah serangan dari pamannya. Nama bieber tercoreng dengan kejadian ini.
“dad.. jaxon takut.” Gumam jaxon dipelukan dad-nya. Justin hanya mengelus kepala anaknya lembut.
-skip-
“dad.” Gumam jaxon menyadari keberadaan dad-nya. Bangkit dari posisinya yang semula dipeluk caitlin. Justin tersenyum lalu mengelus kepala putranya lembut. Hatinya terasa sejuk manakala melihat senyum jaxon. Betapa bahagianya ia mengetahui ternyata anaknya tidak membenci dirinya.

“dad” seru seorang bocah laki-laki tampan yang mengenakan seragam taman kanak-kanaknya setelah menyadari sosok sang ayah yang berdirir menunggunya didepan kelas. Sang ayah langsung merentangkan tangannya bersiap menankap putranya yang menghambur kepelukannya.
“hei jagoan! Kau tak nakan selama sekolahkan?” tanya sang ayah seraya mengacak rambut anaknya.
“tidak dad! Jaxon kan anak baik!”
“jaxon, dad ingin mengajakmu makan es krim.” Seketika mata hazel jaxon langsung berbinar mendengar apa yang ayahnya katakan.
Dikedai es krim terlihat seorang wanita muda cantik berpakaian terusan hijau pastel tanpa lengan sedang menunggu disalah satu kursi. Tak begitu lama, senyum perlahan terukir dibibir sang wanita ketika kedua sosok itu menghampirinya.
“lama menunggu?” tanya justin pada istrinya seraya mengecup kening istrinya mesra.
“hm tidak.”
“mommy!” pekik jaxon sambil menghambur kepelukan sang ibu. Caitlin tersenyum ketika melihat tubuh mungil sang anak memeluknya erat.
Derai tawa mulai terdengar dikedai es krim yang tak jauh dari sekolah jaxon. Tawa kebahagian yang akan selalu mengiringi perjalanan mereka.
Kisah hidup yang penuh dengan penderitaan akan berakhir kebahagiaan. Kalian percaya karma? Dulu aku mempercayainya. Tapi tidak untuk sekarang. Waktu dan keadaan membuatku berfikir bahwa setiap orang memiliki takdir. Takdir hidup yang telah digariskan Tuhan pada setiap ciptaanya. Mungkin ini telah terjadi bagiku untuk merasakan penderitaan dalam rumah tangga. Namun, penderitaan itu membuatku tegar dan mampu bertahan. Hingga akhirnya, kebahagiaan telah kuraih. Kini tinggal masa depan bahagia menantiku. Bersama suami dan anakku. Kenangan pahit telah kutinggalkan. Telah kukubur bersama sakitnya hati yang mendera batinku. Sehingga menjadi kenangan yang tak dikenal.


The end!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar