Semua orang bisa berbicara, namun tidak semua orang
bisa berbicara lancar dan menarik di muka umum atau di depan orang banyak
lainnya. Apalagi kalau kita bicara dan menjadi pusat perhatian orang banyak
dalam suatu acara. Kita harus menyiapkan mental yang baik dan materi apa yang
akan kita sampaikan saat berbicara di muka umum. Kita harus berwawasan luas dan
mampu mengelola waktu dan semacamnya.
Public speaking dulu sebelum masehi-SM di yunani
dikenal dengan Retorika, yang artinya “keahlian berbicara atau berpidato”.
Dalam perkembangan, Retorika mengenal tiga bentuk, yaitu :
1.
Demi
penemuan kebenaran (Socrates, Bapak Retorika)
2.
Demi
kekuasaan ataupun kemenangan saja (sesuai dengan filsafat Sophisme)
3.
Sebagai
alat persuasi yang banyak menggunakan penemuan – penemuan terakhir dalam bidang
ilmu jiwa dan karenanya mulai menggunakan naman “Scientific Rhetoric”
Retorika berpusat pada pemikiran, bahwa manusia
dapat menggunakan perasaan atau pendapat yang umumnya benar. Dilihat dari
sejarah, manusia mempunyai keinginan atau hasrat dan kebutuhan untuk
menyampaikan segala perasaan, pengalaman dan pendapatnya kepada orang lain.
Peran media massa yang membantu menyampaikan pesan kepada pendengar, penonton
dan pembaca. Aliran Sophisme, yang berpendapat, manusia ialah “makhluk yang
berpengetahuan dan kemauan” dan setiap manusia mempunyai penilaian sendiri
mengenai baik atau buruknya sesuatu, memiliki nilai – nilai etika tersendiri,
maka kebenaran suatu pendapat hanya dapat dicapai dengan memenangkan pendapatnya.
Hal ini bisa tercapai jika memiliki keahlian berbicara. Aliran ini mengemukakan
kebenaran suatu pendapat hanya dapat dibuktikan bila mencapai kemenangan dalam
pembicaraan penganut aliran retorika Sokrates (469 – 399) dan Georgias,
retorika digunakan demi kebenaran, melalui dialog dengan teknik ini, kebenaran akan muncul dengan
sendirinya.
Plato sebagai seorang pendidik, mengatakan retorika
penting sebagai :
1.
Metode
pendidikan
2.
Alat
untuk mencapai kedudukan dalam pemerintahan
3.
Alat
mempengaruhi rakyat
Aristoteles (384-322) mengajarkan dalam retorika orang
harus mengatakan dengan :
1.
Jelas
2.
Singkat
3.
Meyakinkan
Pada waktu itu, bagaimana meyakinkan pengadilan,
sehubung dengan pengambilan tanah, milik rakyat yang diambil oleh para Tirani
yang berkuasa saat itu. Kalau tidak mampu untuk menyatakan secara jelas dan
lancar, kita termasuk orang gagal mempertahankan milik kita, karena dulu belum
ada “pengacara” yang membantu mempertahankan milik kita di depan pengadilan. Para
ahli menganggap retorika kalau dilihat dari tinjauan komunikasi maka disebut
“speech of communication” atau “public speaking”. Para ahli
menganjurkan pentingnya mempelajari “public speaking”, apalagi kita berada
dalam bidang usaha, serta kehidupan sosial lainnya, bahkan kemampuan kita yang
mempelajari dan mengetahui public speaking dapat bertindak pada waktu tertentu
untuk memutuskan sesuatu dengan segera dan dapat diterima oleh yang lain. Setiap
kesempatan secara bertahap bahkan seumur hidup dipergunakan untuk meningkatkan
kemampuan berbicara di depan banyak orang istilah public speaking berawal dari
para ahli retorika, yang mengartikan sama ialah keahlian berbicara atau
berpidato yang sudah berkembang abad sebelum Masehi.
Seperti yang diungkapkan Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya
“Retorika Modern” (cetakan keenam, tahun 2000), bahwa kemajuan Negara barat
bukan bertumpu pada pengetahuan matematika, fisika atau kimia. Kalau mendalam
lagi keingintahuan kita tentang mengapa mereka memiliki kemampuan luar biasa
dalam ilmu-ilmu alam, bukan saja mengenai apa yang mereka pikirkan, tetapi
bagaimana kemampuan mereka menyajikannya dengan ucapan yang jelas sehingga
hasil presentasinya dapat dipahami khalayak.
Berabad-abad lalu mereka berpijak pada budaya yang mementingkan
pendidikan bahasa, yang berakar pada filsafat yunani dan yang bertumpu pada
retorika. Kemudian, ada anggapan negatif menggunakan kata retorika, kita sedang
berhadapan dengan seni propaganda, menggunakan kata-kata yang indah dan bagus
yang disangsikan kebenarannya. Pengertian sebenarnya “retorika” yakni pemekaran
bakat-bakat tertinggi manusia, yaknirasio dan cita rasa lewat bahasa sebagai
kemampuan berkomunikasi dalam media pikiran. Dalam retorika, para pemimpin
dapat menaklukkan hati dan jiwa, atau kemampuan mengotak atik otak, sehingga
keputusannya dapt diterima oleh karyawan atau audiens. Pada abad ke-20,
retorika mengambil manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan modern, khususnya
ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istolah retorika mulai
digeser speech communication, atau oral communication atau lebih dikenal dengan
public speaking.
Pengertian Public Speaking
Secara sederhana, public speaking dapat didefinisikan
sebagai proses berbicara kepada kelompok orang dengan tujuan untuk memberi
informasi, mempengaruhi (mempersuasi) dan/ menghibur audiens. Banyak orang
menyebut public speaking sebagai presentasi. Seperti layaknya semua bentuk
komunikasi, berbicara di deoan public memiliki beberapa elemen dasar yang parallel
dengan model komunikasi yang di kemukakan oleh Laswell yakni komunikator atau
pembicara, pesan atau isi presentasi, komunikan atau pendengar dan audiens,
medium dan efek atau sebagai dampak presentasi pada pendengar. Tujuan berbicara
di depan public bermacam – macam, mulai dari mentransmisikan informasi,
memotivasi orang, atau hanya sekedar bercerita. Apapun tujuannya, seorang
pembicara yang baik dapat mempengaruhi baik pemikiran maupun perasaan
audiensnya. Dewasa ini, public speaking sangat diperlukan dalam berbagai
konteks, antara lain dalam kepemimpinan, sebagai motivator, dalam konteks
keagamaan, dalam pendidikan, dalam bisnis, customer service, sampai komunikasi
massa seperti berbicara di televise atau untuk pendengar radio.
Perkembangan Public Speaking
Retorika adalah seni sekaligus ilmu yang mempelajari
pengguna bahasa dengan tujuan menghasilkan efek persuasif. Selain logika dan
tata bahasa, retorika adalah ilmu wacana yang tertua yang dimulai sejak zaman
Yunani kuno. Hingga saat ini, retorika adalah bagian sentral dalam pendidikan
dunia barat. Kemampuan dan keahlian untuk berbicara di depan audiens atau public
dan untuk mempersuasi audiens untuk melakukan sesuatu melalui seni berbicara
adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pelatihan seorang intelektual
(Johnstone, 1995). Retorika sebagai cabang ilmu berkaitan erat dengan
penggunaan simbol – simbol dalam interaksi antar manusia.
Dalam sistematisasi retorika Aristoteles, aspek
terpenting dalam teori dan dasar pemikiran retorika adalah tiga jenis
pendekatan untuk mempersuasi pendengar, yakni logos, pathos dan ethos. Logos adalah
strategi untuk meyakinkan pendengar dengan menggunakan wacana yang
mengedepankan pengetahuan dan rasionalitas (reasoned discourse), sementara
pathos adalah pendekatan yang mengutamakan emosi atau menyentuh perasaan pendengar.
Dan ethos adalah pendekatan moral menggunakan nilai – nilai yang berkaitan
dengan keyakinan pendengar. Di abad ke – 20, retorika berkembang menjadi sebuah
cabang ilmu pengetahuan dengan berkembangnya pengajaran tentang komunikasi publik
dan retorika di sekolah – sekolah menengah dan universitas – universitas pertama
di Eropa dan kemudian meluas hingga kawasan – kawasan lain di dunia. Harvard,
sebagai universitas pertama di Amerika Serikat, misalnya, telah lama memiliki
kurikulum mata kuliah dasar sebagai Retorika sebagai salah satu mata kuliahnya
(Borchers, 2006). Dengan berkembangnya ilmu komunikasi, pembelajaran retorika
lebih meluas lagi. Saat ini, retorika dipelajari dalam ruang lingkup yang luas
dalam bidang pemasaran, politik, komunikasi bahkan bahasa (linguistic). Propaganda
menjadi fenomena retorika yang sangat menarik. Ketika orang berlomba – lomba mendesain
kata – kata untuk mempengaruhi orang lain, itu membuktikan bahwa seni mernagkai
pesan sangat berpengaruh dalam berkomunikasi.
Tokoh – tokoh Public
Speaking :
- . James
A. Winans dalam
bukunya “public speaking”( 1917) menggunakan spikologi dari Williams James dan
E.B Tichener. Sesuai teori James bahwa tindakan ditentukan perhatian, Winans
mendefinisikan persuasi sebagai “proses menumbuhkan perhatian. Pentingnya
membangkitkan emosi melalui motif- motif psikologi seperti kepentingan pribadi,
kewajiban sosial dan kewajiban agama. Winans adalah pendiri Speech
Communication Association of America (1950).
- Charles
Henry Woolbert yang
juga pendiri Speech Communication Association of America. Psikologi yang
memengaruhinya adalah behaviorisme dari John B.Watson. Woolbert memandang
Speech Communication sebagai ilmu tingkah laku. Pidato merupakan ungkapan
kepribadian. Logika adalah dasar utama persuasi. Dalam menyusun persiapan
pidato harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Teliti tujuannya, (2)
Ketahui khalayak dan situasinya, (3) Tentukan proposisi yang cocok dengan
khalayak dan situasi tersebut, (4) Pilih kalimat-kalimat yang dipertalikan
secara logis. Bukunya, The Fundamental of Speech.
- William
Noorwood Brigance Berbeda dengan Woolbert
yang menitikberatkan logika, Brigance menekankan faktor keinginan (desire) sebagai
dasar persuasi. Persuasi meliputi empat unsur: 1) Rebut perhatian pendengar, 2)
Usahakan pendengar untuk mempercayai kemampuan dan karakter anda, 3)
Dasarkanlah pemikiran pada keinginan, dan 4) Kembangkan setiap gagasan sesuai
dengan sikap pendengar.
- Alan H. Monroe dalam
bukunya, Principles and Types of Speech. Pertengahan tahun 20-an Monroe bersama
stafnya meneliti proses motivasi. Jasa, Monroe, cara organisasi pesan. Menurut
Monroe pesan harus disusun berdasarkan proses berpikir manusia yang disebutnya
motivated sequence.
Public Speaking sebagai Tool
Komunikasi
keberadaan “Public Speaking”. Kehadirannya dalam kegiatan
komunikasi yang berperan adalah komunikator atau public-speaker. Dalam
pelajaran ini, pengetahuan yang akan menjadikan seseorang atau komunikator
sebagai pembawa pesan, mempunyai kemampuan untuk menyajikan sebuah gagasan
kepada audiens. Dengan demikian, komunikator mengungkapkan ide dan dengan
kemauan yang tepat, cepat dan taktis.
Menurut Herbert V. Prochnow mengembangkan kemampuan secara bertahap belajar seumur hidup,
tahun demi tahun dan makin lama makin berbobot. Hal ini dapat bersamaan
bagaimana memiliki kepercayaan pada diri sendiri. Kegiatan lain yang dapat
mendukung kemampuan public speaking, apabila aktif melakukan berbagai kegiatan
seperti dalam dunia usaha dan kehidupan sosial lainnya. Dalam dunia usaha ada
peluang selalu menghadapi saat-saat terjadinya tuntunan knsumen terhadap hasil
produksi, bahkan kerja lembaga atau organisasi selalu mendapatkan sorotan
masyarakat. Di sinilah peranan seorang petugas PR untuk menjelaskan apakah
melalui selebaran atau news release atau pertemuan-pertemuan dengan wartawan
media. Sebagai komunikator melalui media mengungkapkan pikiran, ide dan
pendapat pada seluruh pendengar. Pada kesempatan memberikan saran, mengeririk,
memberikan suara mewakili organisasinya serta memberikan keputusan, maka teknik
“public speaking” sama pentingnya dengan kemampuan berdialog dengan
individu-individu secara efektif.
Tapi ada yang
beranggapan mempelajari public speaking membuang-buang waktu saja. Karena
setiap hari kegiatan kita dilengkapi dengan berbicara. Mungkin pengertian salah
itu bersumber pada perkiraan bahwa Anda diharapkan melakukan pidato-pidato
resmi atau karena membayangkan pidato para tokoh politik yang terkenal.
Orang-orang dilingkungan pergaulan dan usaha Anda banyak mengemukakan ide yang
biasa Anda lakukan juga, dalam rapat, konperensi ataupun percakapan setiap hari
Ucapan-ucapan mereka yang benar, bukanlah gambaran “public speaking”, tetapi
merupakan suatu pengecualian, dari seni berbicara. Banyak orang berpidato,
mengesankan di hati. Memang kualitas orang berbeda berbicara dengan baik dan
efektif. Pasti Anda pernah berbicara dengan baik dan efektif dalam pembicaraan
pribadi, surat ataupun memorandum. Tak ada alasan mengapa Anda tidak dapat melakukan
di depan umum. Masalahnya penguasaan teknik yang masih harus Anda pelajari dan
kuasai. Kalau berbicara dengan kaku dan memalukan, maka kesempatan untuk
mencapai apa yang diharapkan dalam usaha, seni dan pergaulan akan berkurang. Tidak ada bedanya percakapan dengan
beberapa orang dengan percakapan di depan umum. Hanya suaralah yang diperkeras
dan diperjelas. Dalam percakapan antara teman, kita menjawab pertanyaan mereka,
bertanya sesuatu atau menanggapi pendapat mereka. Di depan umum, kiat
menggantikkan dengan penampilan sikap kita secara umum, raut wajah kita,
anggukan atau gelengan kepala, sebagai tanda perhatian kita pada tanggapan para
pendengar. Public Speaking merupakan percakapan biasa yang diperluas daya
cakupannya.