Tahun baru tentu tahun ajaran baru. Dari TK ke SD, dari SD ke SMP, dan
dari SMP ke SMA/SMK. Dan yang paling membingungkan adalah saat SMP beralih mau
ke SMA atau SMK. Itu tergantung diri kita masing-masing. Kita harus mengetahui
passion kita dimana. Jangan sampai salah langkah. Ini untuk menentukan masa
depan. Tapi jujur, waktu SMP, saya di landa dengan perasaan “andilau” alias “antara
dilemma dan galau”. Karena saya tidak tahu dimana passion saya. Pikirkan coba
saat berumur tidak kurang atau tidak lebih 15 tahun, saya harus menentukan
jenjang pendidikan saya yang selanjutnya. Saya tidak tau apa-apa saat itu. Yang
ada di pikiran saya hanya sekolah di Jakarta yang harus sekolah Negeri. Karena pada
saat itu, ekonomi keluarga tidak mendukung untuk melanjutkan sekolah di swasta.
Jadi saya menyerahkan itu semua ke mama saya. Terserah mama saya ingin
melanjutkan sekolah saya dimana.
Saya merupakan seorang siswa dari SMP Negeri 8 Depok. Dan untuk melanjutkan
sekolah ke Jakarta itu saya harus pindah rayon. Dan mama saya yang pergi ke
walikota untuk pindah rayon dan mencari sekolah negeri di Jakarta. Karena di Jakarta
itu sekolah negeri tidak bayar. Semuanya sudah di tanggung pemerintah. Dan saya
hanya belajar untuk mendapatkan nilai yang cukup tinggi supaya bias jadi bagian
siswa di Jakarta ( kalau kita dari luar Jakarta,
walaupun nilai kita tinggi tidak menjamin juga sih kita akan di terima di
sekolah sekitar Jakarta. Karena pihak sekolah membatasi dalam menerima siswa
dari luar Jakarta. Dan saat jaman saya itu, yang ke terima dari luar Jakarta di
setiap seolah maksimal 5 orang ). Tentu itu membuat diri saya ketar-ketir
alias deg-degan. Tapi dengan usaha mama saya yang pantang menyerah dan berdoa
terus, saya akhirnya di terima di sekolah SMK Negeri 37 Jakarta.
SMK 37 Jakarta yang merupakan sekolah khusus pariwisata. Saat seleksi,
nama saya berada di jurusan Patiseri. Padahal saat pendaftaran, kita di suruh
memilih 3 jurusan. Pilihan pertama saya adalah AP ( Akomodasi Perhotelan ), jurusan kedua saya memilih JB ( Jasa Boga ) dan terakhir saya pilih Patiseri.
Saat saya mengecek jurusan mana saya di terima, nama saya terdapat di jurusan
Patiseri. Ya walaupun sedikit kecewa, karena harapan saya bias masuk di jurusan
Jasa Boga. Tapi saya bersyukur, setidaknya saya sudah bias mendapati bangku
untuk melanjutkan sekolah di Jakarta.
Mungkin masih banyak orang yang tidak tahu apa itu Patiseri? So saya
akan menjelaskannya. Patiseri merupakan jurusan bagian dari Jasa Boga. Tetapi ,
kalau Jasa Boga itu mencakup mulai dari appetizer, main course, dan dessert. Sedangkan
Patiseri hanya di bagian dessert. Jadi saya akan menceritakan masa-masa selama
saya bersekolah di sana.
Banyak dari kebanyakan orang di depok tidak mengetahui benefit sekolah
di bagian pariwisata. Mereka hanya tahu kalau itu akan lebih melelahkan. Padahal
justru di Jakarta, anak dari sekolah pariwisata sangat di butuhkan. Selain membantu
pihak yang butuh, kita juga dapat imbalan berupa uang. Kira-kira kita bias
mendapatkan 90rb/hari. Tergantung dari hotelnya sih kalau bagian pendapatannya.
Tapi kita juga bias ambil di cake shop, Cuma pendapatannya lebih sedikit
berkisar 50rb/hari. Saya anjurkan untuk mengambil di bagian hotel saja. Karena saya
dulu dengan bodohnya mengambil cake shop, dan itu saya kerja seperti saat masa
romusa atau kerja rodi. Capeknya bukan main. Walaupun memang lelah, tapi saya
mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Ilmu saya juga bertambah.
Intinya, kalau kalian ingin melanjutkan sekolah ke jenjang SMK
Pariwisata, tidak akan ada rasa sesal. Justru yang ada hanya keseruan. Karena saat di sekolah,
kita keseringan tidak konsen dalam belajar, disebabkan oleh aroma-aroma masakan
yang begitu nikmat. Tapi usahakan tetap fokuslah ya. Nanti kena ceramah guru
malah serasa aroma makanan yang tadinya nikmat menjadi anta.
Sekian pengalaman dari saya ya. Kurang lebihnya mohon dimaafkan. Jika ada
yang ingin bertanya-tanya lebih lanjut, monggo di persilahkan. Bisa komen
dibawah. Terima kasih. Salam dari anak SMK! J


Terimakasih informasinya
BalasHapusKunjungi juga blog saya