Kamis, 21 Maret 2019

Sejarah Public Speaking


Semua orang bisa berbicara, namun tidak semua orang bisa berbicara lancar dan menarik di muka umum atau di depan orang banyak lainnya. Apalagi kalau kita bicara dan menjadi pusat perhatian orang banyak dalam suatu acara. Kita harus menyiapkan mental yang baik dan materi apa yang akan kita sampaikan saat berbicara di muka umum. Kita harus berwawasan luas dan mampu mengelola waktu dan semacamnya.

Public speaking dulu sebelum masehi-SM di yunani dikenal dengan Retorika, yang artinya “keahlian berbicara atau berpidato”. Dalam perkembangan, Retorika mengenal tiga bentuk, yaitu :
1.      Demi penemuan kebenaran (Socrates, Bapak Retorika)
2.      Demi kekuasaan ataupun kemenangan saja (sesuai dengan filsafat Sophisme)
3.      Sebagai alat persuasi yang banyak menggunakan penemuan – penemuan terakhir dalam bidang ilmu jiwa dan karenanya mulai menggunakan naman “Scientific Rhetoric”


Retorika berpusat pada pemikiran, bahwa manusia dapat menggunakan perasaan atau pendapat yang umumnya benar. Dilihat dari sejarah, manusia mempunyai keinginan atau hasrat dan kebutuhan untuk menyampaikan segala perasaan, pengalaman dan pendapatnya kepada orang lain. Peran media massa yang membantu menyampaikan pesan kepada pendengar, penonton dan pembaca. Aliran Sophisme, yang berpendapat, manusia ialah “makhluk yang berpengetahuan dan kemauan” dan setiap manusia mempunyai penilaian sendiri mengenai baik atau buruknya sesuatu, memiliki nilai – nilai etika tersendiri, maka kebenaran suatu pendapat hanya dapat dicapai dengan memenangkan pendapatnya. Hal ini bisa tercapai jika memiliki keahlian berbicara. Aliran ini mengemukakan kebenaran suatu pendapat hanya dapat dibuktikan bila mencapai kemenangan dalam pembicaraan penganut aliran retorika Sokrates (469 – 399) dan Georgias, retorika digunakan demi kebenaran, melalui dialog dengan  teknik ini, kebenaran akan muncul dengan sendirinya.


Plato sebagai seorang pendidik, mengatakan retorika penting sebagai :
1.      Metode pendidikan
2.      Alat untuk mencapai kedudukan dalam pemerintahan
3.      Alat mempengaruhi rakyat



Aristoteles (384-322) mengajarkan dalam retorika orang harus mengatakan dengan :
1.      Jelas
2.      Singkat
3.      Meyakinkan

Pada waktu itu, bagaimana meyakinkan pengadilan, sehubung dengan pengambilan tanah, milik rakyat yang diambil oleh para Tirani yang berkuasa saat itu. Kalau tidak mampu untuk menyatakan secara jelas dan lancar, kita termasuk orang gagal mempertahankan milik kita, karena dulu belum ada “pengacara” yang membantu mempertahankan milik kita di depan pengadilan. Para ahli menganggap retorika kalau dilihat dari tinjauan komunikasi maka disebut “speech of communication” atau “public speaking”. Para ahli menganjurkan pentingnya mempelajari “public speaking”, apalagi kita berada dalam bidang usaha, serta kehidupan sosial lainnya, bahkan kemampuan kita yang mempelajari dan mengetahui public speaking dapat bertindak pada waktu tertentu untuk memutuskan sesuatu dengan segera dan dapat diterima oleh yang lain. Setiap kesempatan secara bertahap bahkan seumur hidup dipergunakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan banyak orang istilah public speaking berawal dari para ahli retorika, yang mengartikan sama ialah keahlian berbicara atau berpidato yang sudah berkembang abad sebelum Masehi.

Seperti yang diungkapkan Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Retorika Modern” (cetakan keenam, tahun 2000), bahwa kemajuan Negara barat bukan bertumpu pada pengetahuan matematika, fisika atau kimia. Kalau mendalam lagi keingintahuan kita tentang mengapa mereka memiliki kemampuan luar biasa dalam ilmu-ilmu alam, bukan saja mengenai apa yang mereka pikirkan, tetapi bagaimana kemampuan mereka menyajikannya dengan ucapan yang jelas sehingga hasil presentasinya dapat dipahami khalayak.

Berabad-abad lalu mereka berpijak pada budaya yang mementingkan pendidikan bahasa, yang berakar pada filsafat yunani dan yang bertumpu pada retorika. Kemudian, ada anggapan negatif menggunakan kata retorika, kita sedang berhadapan dengan seni propaganda, menggunakan kata-kata yang indah dan bagus yang disangsikan kebenarannya. Pengertian sebenarnya “retorika” yakni pemekaran bakat-bakat tertinggi manusia, yaknirasio dan cita rasa lewat bahasa sebagai kemampuan berkomunikasi dalam media pikiran. Dalam retorika, para pemimpin dapat menaklukkan hati dan jiwa, atau kemampuan mengotak atik otak, sehingga keputusannya dapt diterima oleh karyawan atau audiens. Pada abad ke-20, retorika mengambil manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan modern, khususnya ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istolah retorika mulai digeser speech communication, atau oral communication atau lebih dikenal dengan public speaking.
Pengertian Public Speaking

Secara sederhana, public speaking dapat didefinisikan sebagai proses berbicara kepada kelompok orang dengan tujuan untuk memberi informasi, mempengaruhi (mempersuasi) dan/ menghibur audiens. Banyak orang menyebut public speaking sebagai presentasi. Seperti layaknya semua bentuk komunikasi, berbicara di deoan public memiliki beberapa elemen dasar yang parallel dengan model komunikasi yang di kemukakan oleh Laswell yakni komunikator atau pembicara, pesan atau isi presentasi, komunikan atau pendengar dan audiens, medium dan efek atau sebagai dampak presentasi pada pendengar. Tujuan berbicara di depan public bermacam – macam, mulai dari mentransmisikan informasi, memotivasi orang, atau hanya sekedar bercerita. Apapun tujuannya, seorang pembicara yang baik dapat mempengaruhi baik pemikiran maupun perasaan audiensnya. Dewasa ini, public speaking sangat diperlukan dalam berbagai konteks, antara lain dalam kepemimpinan, sebagai motivator, dalam konteks keagamaan, dalam pendidikan, dalam bisnis, customer service, sampai komunikasi massa seperti berbicara di televise atau untuk pendengar radio.
Perkembangan Public Speaking

Retorika adalah seni sekaligus ilmu yang mempelajari pengguna bahasa dengan tujuan menghasilkan efek persuasif. Selain logika dan tata bahasa, retorika adalah ilmu wacana yang tertua yang dimulai sejak zaman Yunani kuno. Hingga saat ini, retorika adalah bagian sentral dalam pendidikan dunia barat. Kemampuan dan keahlian untuk berbicara di depan audiens atau public dan untuk mempersuasi audiens untuk melakukan sesuatu melalui seni berbicara adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pelatihan seorang intelektual (Johnstone, 1995). Retorika sebagai cabang ilmu berkaitan erat dengan penggunaan simbol – simbol dalam interaksi antar manusia.
Dalam sistematisasi retorika Aristoteles, aspek terpenting dalam teori dan dasar pemikiran retorika adalah tiga jenis pendekatan untuk mempersuasi pendengar, yakni logos, pathos dan ethos. Logos adalah strategi untuk meyakinkan pendengar dengan menggunakan wacana yang mengedepankan pengetahuan dan rasionalitas (reasoned discourse), sementara pathos adalah pendekatan yang mengutamakan emosi atau menyentuh perasaan pendengar. Dan ethos adalah pendekatan moral menggunakan nilai – nilai yang berkaitan dengan keyakinan pendengar. Di abad ke – 20, retorika berkembang menjadi sebuah cabang ilmu pengetahuan dengan berkembangnya pengajaran tentang komunikasi publik dan retorika di sekolah – sekolah menengah dan universitas – universitas pertama di Eropa dan kemudian meluas hingga kawasan – kawasan lain di dunia. Harvard, sebagai universitas pertama di Amerika Serikat, misalnya, telah lama memiliki kurikulum mata kuliah dasar sebagai Retorika sebagai salah satu mata kuliahnya (Borchers, 2006). Dengan berkembangnya ilmu komunikasi, pembelajaran retorika lebih meluas lagi. Saat ini, retorika dipelajari dalam ruang lingkup yang luas dalam bidang pemasaran, politik, komunikasi bahkan bahasa (linguistic). Propaganda menjadi fenomena retorika yang sangat menarik. Ketika orang berlomba – lomba mendesain kata – kata untuk mempengaruhi orang lain, itu membuktikan bahwa seni mernagkai pesan sangat berpengaruh dalam berkomunikasi.
Tokoh – tokoh Public Speaking :
  1. .   James A. Winans dalam bukunya “public speaking”( 1917) menggunakan spikologi dari Williams James dan E.B Tichener. Sesuai teori James bahwa tindakan ditentukan perhatian, Winans mendefinisikan persuasi sebagai “proses menumbuhkan perhatian. Pentingnya membangkitkan emosi melalui motif- motif psikologi seperti kepentingan pribadi, kewajiban sosial dan kewajiban agama. Winans adalah pendiri Speech Communication Association of America (1950).
  2.  Charles Henry Woolbert yang juga pendiri Speech Communication Association of America. Psikologi yang memengaruhinya adalah behaviorisme dari John B.Watson. Woolbert memandang Speech Communication sebagai ilmu tingkah laku. Pidato merupakan ungkapan kepribadian. Logika adalah dasar utama persuasi. Dalam menyusun persiapan pidato harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Teliti tujuannya, (2) Ketahui khalayak dan situasinya, (3) Tentukan proposisi yang cocok dengan khalayak dan situasi tersebut, (4) Pilih kalimat-kalimat yang dipertalikan secara logis. Bukunya, The Fundamental of Speech. 
  3.  William Noorwood Brigance Berbeda dengan Woolbert yang menitikberatkan logika, Brigance menekankan faktor keinginan (desire) sebagai dasar persuasi. Persuasi meliputi empat unsur: 1) Rebut perhatian pendengar, 2) Usahakan pendengar untuk mempercayai kemampuan dan karakter anda, 3) Dasarkanlah pemikiran pada keinginan, dan 4) Kembangkan setiap gagasan sesuai dengan sikap pendengar.
  4. Alan H. Monroe dalam bukunya, Principles and Types of Speech. Pertengahan tahun 20-an Monroe bersama stafnya meneliti proses motivasi. Jasa, Monroe, cara organisasi pesan. Menurut Monroe pesan harus disusun berdasarkan proses berpikir manusia yang disebutnya motivated sequence.

Public Speaking sebagai Tool Komunikasi
keberadaan “Public Speaking”. Kehadirannya dalam kegiatan komunikasi yang berperan adalah komunikator atau public-speaker. Dalam pelajaran ini, pengetahuan yang akan menjadikan seseorang atau komunikator sebagai pembawa pesan, mempunyai kemampuan untuk menyajikan sebuah gagasan kepada audiens. Dengan demikian, komunikator mengungkapkan ide dan dengan kemauan yang tepat, cepat dan taktis.
Menurut Herbert V. Prochnow mengembangkan kemampuan secara bertahap belajar seumur hidup, tahun demi tahun dan makin lama makin berbobot. Hal ini dapat bersamaan bagaimana memiliki kepercayaan pada diri sendiri. Kegiatan lain yang dapat mendukung kemampuan public speaking, apabila aktif melakukan berbagai kegiatan seperti dalam dunia usaha dan kehidupan sosial lainnya. Dalam dunia usaha ada peluang selalu menghadapi saat-saat terjadinya tuntunan knsumen terhadap hasil produksi, bahkan kerja lembaga atau organisasi selalu mendapatkan sorotan masyarakat. Di sinilah peranan seorang petugas PR untuk menjelaskan apakah melalui selebaran atau news release atau pertemuan-pertemuan dengan wartawan media. Sebagai komunikator melalui media mengungkapkan pikiran, ide dan pendapat pada seluruh pendengar. Pada kesempatan memberikan saran, mengeririk, memberikan suara mewakili organisasinya serta memberikan keputusan, maka teknik “public speaking” sama pentingnya dengan kemampuan berdialog dengan individu-individu secara efektif.
Tapi ada yang beranggapan mempelajari public speaking membuang-buang waktu saja. Karena setiap hari kegiatan kita dilengkapi dengan berbicara. Mungkin pengertian salah itu bersumber pada perkiraan bahwa Anda diharapkan melakukan pidato-pidato resmi atau karena membayangkan pidato para tokoh politik yang terkenal. Orang-orang dilingkungan pergaulan dan usaha Anda banyak mengemukakan ide yang biasa Anda lakukan juga, dalam rapat, konperensi ataupun percakapan setiap hari Ucapan-ucapan mereka yang benar, bukanlah gambaran “public speaking”, tetapi merupakan suatu pengecualian, dari seni berbicara. Banyak orang berpidato, mengesankan di hati. Memang kualitas orang berbeda berbicara dengan baik dan efektif. Pasti Anda pernah berbicara dengan baik dan efektif dalam pembicaraan pribadi, surat ataupun memorandum. Tak ada alasan mengapa Anda tidak dapat melakukan di depan umum. Masalahnya penguasaan teknik yang masih harus Anda pelajari dan kuasai. Kalau berbicara dengan kaku dan memalukan, maka kesempatan untuk mencapai apa yang diharapkan dalam usaha, seni dan pergaulan akan berkurang. Tidak ada bedanya percakapan dengan beberapa orang dengan percakapan di depan umum. Hanya suaralah yang diperkeras dan diperjelas. Dalam percakapan antara teman, kita menjawab pertanyaan mereka, bertanya sesuatu atau menanggapi pendapat mereka. Di depan umum, kiat menggantikkan dengan penampilan sikap kita secara umum, raut wajah kita, anggukan atau gelengan kepala, sebagai tanda perhatian kita pada tanggapan para pendengar. Public Speaking merupakan percakapan biasa yang diperluas daya cakupannya.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar